SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke menanam 3.500 bibit mangrove dan 1.500 bibit kelapa di Pantai Yobar I, Kampung Imbuti, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Rabu (14/10/2026). Aksi yang melibatkan sekitar 800 peserta itu menjadi bagian dari rangkaian menuju peringatan 50 tahun sekolah tersebut pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Penanaman dilakukan oleh Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze bersama perwakilan TNI/Polri, ratusan siswa, serta alumni SMP YPPK Yohanes XXIII. Bagi sekolah, kegiatan ini bukan semata-mata agenda perayaan, melainkan ajakan untuk menjaga lingkungan pesisir dan mewariskan alam yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Penanaman mangrove Merauke untuk menjaga pesisir
Bupati Yoseph Bladib Gebze mengatakan penanaman mangrove dan kelapa merupakan salah satu upaya merawat alam sebagai titipan bagi anak cucu. Ia mengajak peserta menjaga dan melindungi lingkungan agar generasi mendatang dapat mewarisi alam yang tetap terpelihara.
“Kata orang—alam adalah titipan kepada anak cucu. Sehingga kita harus jaga baik, agar tiba saatnya generasi berikut mewarisi apa yang ditinggalkan,” ujar Yoseph.
Menurut Yoseph, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Ia berharap kebiasaan menanam pohon dapat diterapkan di lingkungan masing-masing, termasuk di sekolah, bersamaan dengan menjaga kebersihan.
Ia juga mendorong SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke menjadi sekolah Adiwiyata. Pemerintah, kata dia, akan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk menata lingkungan sekolah agar lebih baik dan dapat menjadi contoh bagi sekolah lain.
Upaya itu, lanjut Yoseph, tidak berhenti pada penanaman. Pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan juga perlu dilakukan dengan baik. Ia menilai kegiatan di Pantai Yobar I bernilai bagi kehidupan bersama sekaligus mendukung terjaganya lingkungan.
Rangkaian menuju 50 tahun SMP YPPK Yohanes XXIII
Kepala SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke, Sr. Romasi Sihombing, menjelaskan bahwa penanaman ribuan pohon tersebut merupakan ungkapan syukur atas perjalanan sekolah selama 50 tahun. Panitia telah menyiapkan sejumlah kegiatan menjelang peringatan puncak pada 17 Oktober.
Namun, menurut Sihombing, makna kegiatan tidak hanya terletak pada jumlah bibit yang ditanam. Keterlibatan sekitar 800 peserta diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab setiap orang.
Bibit mangrove yang ditanam masih kecil, tetapi diharapkan kelak membantu melindungi kawasan pesisir dan menjadi bagian dari lingkungan yang lebih baik bagi anak cucu. Penanaman kelapa juga menjadi bagian dari aksi tersebut, yang menggabungkan kepedulian terhadap pantai dan penghijauan.
Sihombing mengingatkan agar kegiatan tidak berakhir setelah penanaman selesai. Komitmen merawat tanaman, menjaga kebersihan, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari perlu berjalan beriringan.
“Kami berharap kegiatan tidak berhenti pada penanaman semata, tetapi dilanjutkan komitmen merawat, menjaga kebersihan dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sihombing.
Ajakan merawat pohon setelah ditanam
Lokasi kegiatan memiliki jejak perubahan lingkungan. Yoseph menyebut pantai tersebut dahulu ditumbuhi pohon kelapa, tetapi sebagian tumbang akibat abrasi. Mangrove menjadi salah satu tanaman yang dapat ditanam kembali di kawasan itu.
Gambaran tersebut membuat keberlanjutan kegiatan menjadi penting. Ribuan bibit yang ditanam pada hari itu memerlukan perhatian setelah acara selesai, sejalan dengan harapan kepala sekolah agar peserta turut menjaga dan merawat lingkungan.
Momentum setengah abad SMP YPPK Yohanes XXIII pun diisi dengan pesan yang melampaui perayaan sekolah: kepedulian perlu diteruskan melalui tindakan nyata. Bagi para siswa dan alumni yang terlibat, menanam pohon menjadi awal dari tanggung jawab bersama untuk menjaga pesisir dan lingkungan tempat mereka hidup.
