Kerangka Neanderthal berusia sekitar 75.000 tahun yang ditemukan di Gua Shanidar, Irak utara, menyimpan dua kisah yang bertolak belakang: seorang individu yang pernah dirawat kelompoknya setelah mengalami cedera berat, lalu tewas akibat tusukan tombak. Temuan Shanidar A ini memberi petunjuk bahwa kepedulian terhadap anggota yang terluka bukan hanya dimiliki manusia modern.
Kerangka itu ditemukan di kedalaman sekitar 7,5 meter di bawah lapisan batuan dan tanah. Pada belikat kirinya terdapat lubang bundar berdiameter sekitar 15 milimeter. Bentuk dan arah luka menunjukkan benda tajam menembus tubuh dari bagian depan, melewati paru-paru, lalu keluar melalui punggung.
Luka tombak yang mematikan pada Shanidar A
Para peneliti menyimpulkan luka tersebut kemungkinan disebabkan tombak kayu yang ujungnya diasah, bukan senjata berujung batu. Tusukan bergerak dari atas ke bawah dan menembus dada hingga belikat. Berdasarkan kerusakan yang ditemukan, kematian Shanidar A diperkirakan berlangsung cepat.
Namun, siapa yang menyerangnya dan apa penyebabnya belum diketahui. Peneliti Emma Pomeroy dari Universitas Cambridge mengatakan luka itu menunjukkan adanya serangan langsung. Kemungkinan insiden tersebut berkaitan dengan perburuan yang berujung buruk atau pertikaian antarkelompok, tetapi bukti yang tersedia belum cukup untuk memastikan salah satunya.
“Jejak lukanya menunjukkan serangan langsung. Apakah itu perburuan yang berubah buruk atau pertikaian antar kelompok, belum dapat dipastikan. Namun yang jelas, kematian itu datang dengan cepat,” ujar Emma Pomeroy.
Ketidakpastian mengenai penyebab kematian membuat perhatian peneliti tertuju pada bukti lain di tubuh individu yang sama. Sebelum tewas, Shanidar A pernah mengalami cedera parah pada wajah. Gigi-gigi depannya hancur dan hilang; satu gigi retak dan bergeser, sementara posisi gigi lainnya berubah.
Perawatan kelompok setelah cedera wajah
Kerusakan pada gigi kemungkinan membuat aktivitas sehari-hari menjadi sulit. Shanidar A mungkin kesulitan mengunyah makanan, minum, bahkan berbicara. Cedera itu tidak langsung membunuhnya, tetapi untuk bertahan hidup ia diduga membutuhkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya.
Pomeroy menjelaskan bahwa selama berbulan-bulan, anggota kelompoknya kemungkinan menyediakan makanan yang sudah dilunakkan, merawatnya, dan memberinya waktu untuk beristirahat. Bantuan semacam itu menjadi penting karena kondisi giginya menghambat kemampuan untuk makan. Tanpa dukungan tersebut, Shanidar A kemungkinan tidak mampu bertahan.
Temuan ini menunjukkan bentuk kepedulian yang lebih nyata daripada sekadar keberadaan individu yang terluka. Perawatan terhadap seseorang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya memerlukan perhatian dari anggota kelompok lain dalam kurun waktu tertentu. Dalam kasus Shanidar A, luka yang tidak mematikan itu justru membuka petunjuk tentang kehidupan sosial Neanderthal.
Meski begitu, bukti tersebut tidak menjelaskan secara rinci siapa yang merawatnya atau bagaimana pembagian perawatan dilakukan. Peneliti menyimpulkan adanya bantuan dari kelompok berdasarkan kondisi cedera dan kelangsungan hidup individu itu. Kesimpulan tersebut menjadi bagian penting dari pembacaan terhadap kerangka Shanidar A, tanpa menghapus batas pengetahuan yang masih tersisa.
Gua Shanidar dan jejak penguburan Neanderthal
Shanidar A juga ditemukan di lokasi yang sama dengan empat individu Neanderthal lainnya. Mereka berada di bagian terdalam gua, tersembunyi di balik sebuah pilar batu besar. Kelima individu itu dikuburkan dalam rentang waktu yang tidak berjauhan, sehingga tempat tersebut diduga memiliki arti khusus bagi kelompok mereka.
Penempatan tubuh secara sengaja dan kedekatan waktu penguburan menjadi bagian dari bukti yang dibahas peneliti. Temuan itu menguatkan gambaran bahwa Neanderthal tidak hanya meninggalkan tulang di tempat mereka meninggal, tetapi mungkin memiliki cara tertentu untuk memperlakukan anggota kelompok yang telah wafat. Meski demikian, makna tepat lokasi tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari kerangka yang ditemukan.
Dalam diri Shanidar A, para peneliti melihat jejak kekerasan sekaligus kepedulian. Ia pernah diserang hingga mengalami cedera wajah yang parah, tetapi juga bertahan hidup dalam kondisi yang kemungkinan membuatnya bergantung pada orang lain. Pada akhirnya, ia tewas akibat tusukan yang menembus paru-parunya.
Pomeroy menilai dua sisi itu—kekerasan dan perhatian—tidak hanya ada pada manusia modern. Temuan di Gua Shanidar memberi konteks baru bagi pemahaman tentang Neanderthal: mereka dapat melukai, tetapi juga merawat dan menguburkan sesama. Penelitian lebih lanjut terhadap bukti arkeologis semacam ini dapat membantu menjelaskan bagaimana hubungan sosial mereka terbentuk, sekaligus menjaga agar kesimpulan tentang kehidupan masa lampau tetap berpijak pada bukti.
