Penggunaan rokok elektrik setelah berhenti merokok konvensional dikaitkan dengan risiko kanker paru-paru yang lebih tinggi, menurut penelitian terhadap lebih dari 4,5 juta orang dewasa di Korea Selatan. Angka kejadian pada kelompok pengguna vape tercatat sekitar 56 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok yang berhenti merokok sepenuhnya.
Penelitian yang dilakukan ilmuwan Universitas Nasional Seoul itu diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine. Temuannya menjadi peringatan bagi orang yang beralih ke rokok elektrik dengan anggapan bahwa langkah tersebut otomatis menghapus risiko kesehatan akibat kebiasaan merokok.
Namun, para peneliti tidak menyimpulkan bahwa vape secara langsung menyebabkan kanker paru-paru. Studi tersebut bersifat observasional, sehingga menunjukkan hubungan antara penggunaan rokok elektrik dan kondisi yang diteliti, bukan bukti sebab-akibat.
Penelitian terhadap jutaan orang dewasa di Korea Selatan
Tim peneliti menganalisis data kesehatan anonim dari lebih dari 4,5 juta orang dewasa. Peserta dikelompokkan berdasarkan status merokok, yakni perokok aktif, orang yang baru berhenti, dan mereka yang sudah lama berhenti merokok.
Para peneliti kemudian mengategorikan peserta berdasarkan penggunaan rokok elektrik harian. Analisis tersebut merujuk pada data skrining kesehatan tahun 2018 dari Survei Kesehatan Nasional Korea. Usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan sebelumnya turut diperhitungkan karena dapat memengaruhi hasil.
Fokus temuan yang disorot adalah orang-orang yang telah berhenti merokok konvensional. Di antara kelompok ini, mereka yang menggunakan rokok elektrik memiliki tingkat kanker paru-paru sekitar 56 persen lebih tinggi daripada mereka yang berhenti merokok sepenuhnya dan tidak menggunakan vape.
Perbedaan juga terlihat pada angka kematian akibat kanker paru-paru. Kelompok pengguna rokok elektrik mencatat angka 91 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok nonpengguna. Meski demikian, angka tersebut perlu dibaca sesuai batas penelitian: ia menunjukkan perbedaan yang ditemukan dalam data, bukan kepastian bahwa penggunaan vape menjadi penyebab langsungnya.
Hubungan belum membuktikan rokok elektrik sebagai penyebab
Studi observasional memungkinkan peneliti melihat kaitan antara sejumlah faktor dalam kelompok besar, tetapi tidak dapat memastikan bahwa satu faktor menyebabkan faktor lainnya. Karena itu, hasil penelitian ini belum cukup untuk menyatakan bahwa rokok elektrik secara langsung memicu kanker paru-paru atau meningkatkan kematian akibat penyakit tersebut.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa bukti ilmiah yang secara khusus menghubungkan rokok elektrik dengan kanker paru-paru masih terbatas. Dalam pernyataan tim, studi epidemiologi dan biologi memang mendukung adanya hubungan antara rokok elektrik dan berbagai gangguan pernapasan, tetapi bukti mengenai kaitannya dengan risiko kanker paru-paru belum kuat.
Temuan itu pun belum menjawab dampak vape pada orang yang tidak pernah merokok konvensional. Kelompok tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami risiko dalam kondisi penggunaan yang berbeda.
Masih ada sejumlah hal yang perlu dikaji, termasuk durasi dan intensitas penggunaan rokok elektrik serta faktor risiko lain yang mungkin berperan. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk memperjelas apakah hubungan yang teramati tetap terlihat setelah aspek-aspek tersebut diperhitungkan.
Berhenti sepenuhnya tetap menjadi pilihan yang disarankan
Hasil ini tidak berarti bahwa risiko kanker paru-paru akibat rokok elektrik telah dipastikan. Namun, angka yang ditemukan menjadi alasan untuk berhati-hati, terutama bagi mantan perokok yang menganggap vape sebagai pengganti tanpa risiko.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik tidak serta-merta menghilangkan seluruh kekhawatiran terkait kesehatan paru-paru. Berdasarkan temuan yang ada, berhenti merokok sepenuhnya tetap dipandang sebagai pilihan yang lebih baik daripada berasumsi bahwa penggunaan vape membuat risiko hilang.
Bagi publik, pesan utamanya bukanlah menarik kesimpulan yang melampaui bukti, melainkan memahami batas penelitian sekaligus tidak menganggap rokok elektrik sebagai alternatif yang pasti aman. Bukti tentang kaitannya dengan kanker paru-paru masih perlu diperkuat, dan riset berikutnya diharapkan dapat menjelaskan risiko pada kelompok pengguna yang berbeda.
