Saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) sempat menyentuh Rp96 per lembar pada sesi pertama perdagangan Selasa, 3 November 2026. Penurunan terjadi ketika Raffi Ahmad menghadapi kritik dan seruan boikot di media sosial setelah hadir dalam acara deklarasi kepolisian usai demonstrasi mahasiswa.
Warta Ekonomi melaporkan harga RANS turun 5,9 persen atau Rp6 dari penutupan sebelumnya, Rp102. Angka tersebut menjadi level terendah saham perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu sejak tercatat di bursa. Namun, kaitan langsung antara polemik dan tekanan harga belum dapat dipastikan.
Harga bergerak di rentang Rp96 hingga Rp102
Pada awal perdagangan, saham RANS dibuka pada Rp101. Sepanjang sesi pertama, harga bergerak antara Rp96 dan Rp102, dengan volume transaksi mencapai 16,91 juta saham. Kapitalisasi pasar perusahaan pada saat itu tercatat sekitar Rp1,21 triliun, menurut Warta Ekonomi.
Sejumlah laporan media menampilkan angka penurunan yang berbeda. Tirto.id, misalnya, memberitakan RANS turun 5,56 persen ke Rp102, sedangkan IDNFinancials menyebut koreksi 6,48 persen. Perbedaan angka dapat mencerminkan waktu pengamatan atau sesi perdagangan yang berbeda; angka Warta Ekonomi merujuk pada penutupan sesi pertama dengan harga Rp96.
Pergerakan harian itu berlangsung setelah saham RANS ditutup pada Rp102. Dalam rentang yang lebih panjang, harga tersebut masih jauh di bawah harga penawaran umum perdana, yakni Rp170 per saham. Jika dibandingkan dengan puncak Rp314 yang dicapai pada Juli 2026, koreksi RANS tercatat lebih dalam lagi.
Polemik Raffi dan kinerja usaha jadi perhatian
Raffi menuai kritik atas kehadirannya dalam acara deklarasi kepolisian yang berlangsung setelah demonstrasi mahasiswa. Seruan boikot kemudian ramai di media sosial. Dampak polemik itu turut menjadi perhatian terhadap sejumlah aktivitas yang berkaitan dengan Raffi, termasuk kabar sejumlah musisi mundur dari RANS Carnival di Sleman.
Kompas.com mengangkat isu tersebut dalam pembahasan mengenai konsekuensi sosial yang dihadapi Raffi. Meski demikian, laporan mengenai seruan boikot dan kabar mundurnya musisi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sentimen itu menjadi penyebab turunnya saham. Data perdagangan yang tersedia hanya menunjukkan perubahan harga dan aktivitas transaksi pada periode tersebut.
Investor juga memiliki faktor perusahaan yang bisa dicermati. Pendapatan RANS pada semester I-2026 tercatat Rp149 miliar, turun 13,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Warta Ekonomi menyebut penurunan pendapatan itu sebagai salah satu aspek fundamental yang patut diperhatikan, di samping perkembangan sentimen terhadap Raffi.
Dengan demikian, tekanan pada saham RANS muncul bersamaan dengan polemik publik dan penurunan pendapatan. Namun, informasi yang tersedia belum memisahkan seberapa besar pengaruh masing-masing faktor terhadap keputusan investor. Harga saham juga bergerak mengikuti transaksi pasar, sehingga satu peristiwa di media sosial belum cukup untuk menjelaskan seluruh perubahan.
Penurunan jauh dari harga IPO
Pada harga Rp96, saham RANS berada sekitar 43,53 persen di bawah harga IPO Rp170. Dibandingkan level tertinggi Rp314 pada Juli 2026, penurunannya mencapai sekitar 69,43 persen. Angka itu memberi gambaran bahwa tekanan harga tidak hanya terlihat dalam satu sesi perdagangan.
Di tengah perhatian terhadap seruan boikot, perkembangan berikutnya yang relevan bagi investor adalah kinerja perusahaan dan pergerakan saham pada sesi perdagangan selanjutnya. Untuk saat ini, laporan yang tersedia belum memastikan bahwa kontroversi Raffi menjadi pemicu langsung koreksi, sementara penurunan pendapatan semester I-2026 tercatat sebagai fakta kinerja perusahaan.
