Nabitha Aurelia, penyanyi muda asal Bangka Belitung yang dikenal sebagai Bhita, kini bertahan di Top 11 D’Academy 8 Indosiar. Perjalanannya menuju panggung nasional tidak berlangsung singkat: ia telah empat kali mencoba audisi sebelum akhirnya lolos pada musim kedelapan. PT Timah turut memberikan bantuan untuk mendukung langkah Bhita dalam kompetisi tersebut.
Dukungan itu datang saat Bhita menjadi satu-satunya wakil Bangka Belitung yang masih bertahan di ajang tersebut. Seperti diberitakan Timelines.id, perusahaan juga menyebut bantuan kepada Bhita sebagai bagian dari dukungan bagi potensi anak muda daerah. Namun, laporan itu tidak merinci bentuk maupun nilai bantuan yang diberikan.
Bagi Bhita dan keluarganya, capaian Top 11 bukan hasil dari satu kali keberuntungan. Ia mulai menunjukkan minat bernyanyi saat duduk di kelas tiga sekolah dasar. Sejak itu, kemampuan vokalnya terus diasah melalui sanggar seni dan bimbingan guru vokal, sembari mengikuti perlombaan menyanyi di daerah.
Empat kali mencoba sebelum lolos
Audisi D’Academy menjadi jalur yang berulang kali dicoba Bhita. Ia mengikuti seleksi sejak musim kelima, tetapi baru berhasil melaju pada penyelenggaraan musim kedelapan. Rentang percobaan itu memperlihatkan panjangnya proses yang harus dilalui sebelum namanya masuk ke jajaran peserta yang bersaing di panggung nasional.
Salah satu tantangan keluarga adalah biaya untuk mengikuti audisi secara langsung di Palembang. Perjalanan, makan, dan kebutuhan lain harus disiapkan lebih dulu. Khotijah, ibunda Bhita, mengatakan keluarga mengumpulkan dana secara bertahap. Bhita juga mengikuti lomba sambil belajar dan berusaha menambah uang untuk keperluan tersebut.
“Kalau mau berangkat audisi itu memang harus dipersiapkan semuanya, mulai dari biaya perjalanan, makan, dan kebutuhan lainnya. Jadi kami kumpulkan uang sedikit demi sedikit.”
Menurut Khotijah, kesempatan mengikuti audisi di Palembang akhirnya dapat dimanfaatkan setelah keluarga berhasil mengumpulkan biaya. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Bhita sebelum ia mendapat tempat di kompetisi yang kini membawanya hingga Top 11.
Tekanan kompetisi juga menguji mental
Perjuangan Bhita tidak berhenti setelah lolos audisi. Khotijah menyebut putrinya harus menyesuaikan diri dengan latihan yang padat, termasuk jadwal yang dapat berlangsung sampai larut malam. Kurang istirahat dan komentar di media sosial juga menjadi tekanan yang perlu dihadapi peserta.
“Kami selalu bilang sama Bhita, yang penting usaha dulu, doa dulu, karena tidak semua perjalanan itu mulus,” kata Khotijah.
Ibunya mengaku bangga karena Bhita masih menjadi wakil Bangka Belitung yang bertahan dalam kompetisi. Meski begitu, dukungan keluarga sejauh ini lebih banyak diberikan dari kampung halaman. Khotijah belum dapat menyaksikan langsung penampilan putrinya di studio karena keterbatasan biaya, tetapi ia terus mengirim doa dan semangat.
Bagi keluarga, capaian Bhita memiliki arti tersendiri setelah beberapa kali upaya audisi belum membuahkan hasil. Khotijah menilai kemampuan bernyanyi bukan satu-satunya bekal yang dibutuhkan di panggung. Peserta juga harus menjaga kesiapan mental ketika berhadapan dengan ritme latihan dan penilaian publik.
Dukungan bagi talenta daerah
PT Timah menyatakan dukungan untuk Bhita sejalan dengan perhatian perusahaan terhadap pengembangan potensi generasi muda di daerah. Timelines.id melaporkan perusahaan sebelumnya juga pernah membantu anak muda Bangka Belitung mengikuti kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan apakah bantuan untuk Bhita mencakup kebutuhan perjalanan, pelatihan, atau keperluan lain.
Dukungan tersebut hadir ketika Bhita melanjutkan persaingan di D’Academy 8. Ia membawa nama Bangka Belitung, sekaligus melanjutkan perjalanan yang dimulai dari latihan sejak kecil dan empat kali mengikuti audisi. Untuk keluarganya, tantangan berikutnya tetap sama: menjaga semangat Bhita dari jauh, sementara persaingan berlangsung di panggung televisi.
