Seorang perempuan berusia 48 tahun dari Lai Chau, Vietnam, diketahui terinfeksi cacing pita sapi setelah menjalani kolonoskopi untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Meski hampir tidak merasakan gangguan pencernaan, dokter menemukan parasit sepanjang sekitar 70 sentimeter di ususnya.
Kasus tersebut dilaporkan Rumah Sakit Bach Mai pada 13 Oktober. Sebelumnya, pasien tidak mengeluhkan gejala pencernaan yang berarti. Cacing baru diketahui saat pemeriksaan menggunakan kolonoskop pada 30 September.
Cacing pita sapi ditemukan saat kolonoskopi
Dokter Vu Thi Ngoc Bich dari Institut Gastroenterologi Bach Mai bersama tim menemukan pita parasit berwarna putih dan pipih di bagian akhir ileum. Parasit itu tampak memanjang hingga kolon transversum, bagian dari usus besar.
Tim kemudian menggunakan endoskop untuk mengeluarkan sebagian tubuh cacing. Panjang bagian yang berhasil diambil sekitar 70 sentimeter. Sampel tersebut diperiksa oleh Departemen Mikrobiologi di Rumah Sakit Bach Mai dan hasilnya mengonfirmasi bahwa parasit itu adalah cacing pita sapi atau Taenia saginata.
Setelah prosedur, pasien dirujuk ke Klinik Penyakit Tropis dan Hepatitis untuk menjalani evaluasi, konsultasi, serta pengobatan dengan obat khusus sesuai resep dokter. Pengambilan cacing melalui endoskopi membantu proses identifikasi, tetapi tidak serta-merta memastikan seluruh parasit sudah keluar dari tubuh.
Dokter Bich mengingatkan bahwa bagian kepala cacing dapat tetap melekat pada usus halus dan memungkinkan parasit terus berkembang. Karena itu, pasien tetap memerlukan penanganan medis lanjutan. Panjang 70 sentimeter yang ditemukan merupakan bagian tubuh cacing yang berhasil diambil, bukan kepastian ukuran keseluruhan parasit.
Daging sapi mentah atau kurang matang berisiko
Penularan cacing pita sapi umumnya terjadi ketika seseorang mengonsumsi daging sapi mentah atau setengah matang yang mengandung larva. Setelah masuk ke tubuh, larva dapat berkembang menjadi cacing dewasa di usus halus.
Risiko dapat muncul pada hidangan daging sapi yang tidak dimasak matang apabila bahan makanannya terkontaminasi larva. Karena banyak orang yang terinfeksi hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tidak merasakan keluhan, paparan maupun infeksi bisa luput dari perhatian.
Keluhan yang mungkin muncul antara lain nyeri atau rasa tidak nyaman di perut, kembung, mual, diare, berkurangnya nafsu makan, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Salah satu tanda yang perlu dicermati ialah adanya segmen cacing berwarna putih pada tinja atau pakaian.
Dalam kasus yang jarang terjadi, segmen cacing dapat menimbulkan komplikasi, seperti radang usus buntu atau perpindahan ke saluran empedu maupun saluran pankreas. Namun, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami infeksi. Pemeriksaan dan penilaian perlu dilakukan oleh tenaga medis.
Kenali perbedaan cacing pita sapi dan babi
Cacing pita sapi perlu dibedakan dari cacing pita babi, Taenia solium. Infeksi cacing pita sapi terutama berkaitan dengan konsumsi daging sapi yang mengandung larva. Sementara itu, menelan telur cacing pita babi dapat menyebabkan sistiserkosis, yang dapat berdampak pada otak, mata, atau otot.
Dokter menyarankan orang yang menemukan segmen cacing putih di tinja agar segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan, terlebih jika memiliki kebiasaan mengonsumsi daging sapi mentah atau kurang matang. Pemeriksaan yang tepat membantu tenaga medis mengidentifikasi parasit dan menentukan pengobatan. Pasien juga sebaiknya tidak menggunakan obat sendiri tanpa resep dan mengikuti pemeriksaan lanjutan bila dianjurkan.
Memasak daging hingga matang membantu pencegahan
Langkah pencegahan utama adalah mengonsumsi makanan yang dimasak matang dan membatasi hidangan berbahan daging sapi mentah atau setengah matang. Pilih daging dari sumber tepercaya yang menerapkan pemeriksaan kebersihan veteriner.
Kebersihan saat mengolah makanan juga penting. Gunakan peralatan terpisah untuk bahan mentah dan makanan matang, lalu cuci tangan setelah memegang daging mentah. Dokter turut mengingatkan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan, menggunakan toilet yang bersih, serta mencegah limbah manusia mencemari lingkungan ternak.
Kasus di Bach Mai menunjukkan bahwa infeksi parasit tidak selalu disertai keluhan yang jelas. Jika muncul gangguan pencernaan berkepanjangan, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau segmen putih pada tinja, pemeriksaan medis menjadi langkah yang lebih aman daripada menunggu gejala memburuk.
