Lee Kuan Yew menaburkan bunga di makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada Mei 1973. Kunjungan Perdana Menteri Singapura itu bukan agenda penghormatan biasa. Presiden Soeharto mensyaratkannya sebagai jalan untuk memperbaiki hubungan Indonesia-Singapura yang memburuk setelah kedua marinir tersebut dieksekusi di Singapura pada 1968.
Gestur itu membawa beban diplomatik yang tidak ringan. Lee sendiri memimpin pemerintahan Singapura saat keputusan hukuman mati dijalankan. Namun, hubungan dengan Indonesia dinilai penting bagi Singapura yang baru berpisah dari Malaysia pada 1965 dan sedang membangun negaranya. Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, Lee melihat peluang untuk membuka kembali komunikasi setelah Soeharto memimpin Indonesia.
Eksekusi yang membekukan hubungan
Perselisihan berakar pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Pada 10 Maret 1965, Usman dan Harun menjalankan tugas pengeboman di Singapura, yang saat itu masih menjadi bagian dari Malaysia. Ledakan tersebut menewaskan tiga orang dan melukai 33 lainnya.
Keduanya kemudian ditangkap, dijatuhi hukuman mati, dan digantung pada 1968. Keputusan pemerintah Singapura di bawah kepemimpinan Lee memicu kemarahan di Indonesia. Hubungan diplomatik kedua negara pun berada dalam kondisi yang sangat buruk.
CNBC Indonesia mengutip kenangan diplomat Abdul Rachman Ramly dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (2011). Menjelang eksekusi, sebagian besar staf Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dipulangkan. Atase pertahanan dan beberapa staf lain tetap berada di sana. Langkah penarikan itu menggambarkan betapa keras dampak perkara Usman dan Harun terhadap hubungan kedua negara.
Perubahan politik di Jakarta kemudian membuka ruang pendekatan baru. Setelah Soeharto berkuasa, pemerintah Indonesia lebih membuka diri terhadap kerja sama dengan negara-negara tetangga dibandingkan pada masa konfrontasi dengan Malaysia. Lee memandang situasi itu sebagai kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Indonesia.
Soeharto meminta Lee datang ke makam
Sebelum menerima rencana kunjungan Lee pada Mei 1973, Soeharto mengajukan satu syarat: Lee harus meletakkan karangan bunga langsung di makam Usman dan Harun. Lokasinya di Kalibata, bukan di kaki tugu makam pahlawan, tempat yang lazim digunakan tamu negara untuk meletakkan karangan bunga.
Lee memenuhi permintaan tersebut. Ia mendatangi makam dua marinir itu dan memberikan penghormatan di sana. Dengan begitu, kunjungannya secara langsung menyentuh perkara yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan, bukan sekadar menjalankan seremoni kenegaraan di lokasi umum.
Dalam autobiografi From Third World to First (2000), Lee menjelaskan bahwa ia memahami gestur itu sebagai cara menutup episode yang melukai hubungan kedua negara. Ia juga mempertimbangkan pandangan masyarakat Jawa tentang jiwa dan hati nurani yang bersih. Menurut penilaiannya, tindakan tersebut penting bagi para jenderal Indonesia yang menghargai penghormatan semacam itu.
Upaya membangun komunikasi langsung
Kunjungan ke Kalibata bukan satu-satunya upaya Lee untuk mendekatkan diri dengan Indonesia. Ia juga mempelajari bahasa Indonesia agar dapat berbicara langsung tanpa mengandalkan penerjemah. Upaya tersebut mencerminkan kepentingan Lee untuk membangun komunikasi yang lebih akrab dengan Soeharto dan pemerintah Indonesia.
Langkah itu tidak menghapus perbedaan pandangan mengenai peristiwa 1965 maupun pelaksanaan hukuman mati. Namun, kunjungan pada 1973 memberi ruang bagi kedua pemerintah untuk bergerak dari hubungan yang dibekukan menuju hubungan yang lebih terbuka. Setelahnya, hubungan Indonesia-Singapura berangsur membaik dan membuka jalan bagi kerja sama yang lebih erat.
Peristiwa di Kalibata memperlihatkan bagaimana satu gestur dapat menjadi bagian dari upaya diplomatik yang lebih luas. Dalam kunjungan itu, Lee menerima syarat yang diajukan Soeharto dan mendatangi makam secara langsung. Hubungan kedua negara kemudian berkembang, sementara tindakan tersebut tercatat sebagai salah satu momen penting dalam pemulihan hubungan bilateral.
