Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat belum mengakhiri kekeringan. BMKG masih menetapkan status kekeringan meteorologis di Kecamatan Lambu dan Sape, Kabupaten Bima. Lambu berada pada level siaga, sedangkan Sape berstatus awas.
Hujan lokal yang muncul sejak akhir Oktober membuat cakupan wilayah terdampak menyusut. Namun, hujan datang tidak merata dan belum cukup untuk mengubah kondisi di Bima dan Dompu. Warga di dua wilayah itu masih diminta mengantisipasi kekeringan, termasuk risiko kebakaran hutan dan lahan.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana menyampaikan status di kedua kecamatan tersebut pada Minggu, 1 November 2026. ANTARA melaporkan, hujan di sejumlah daerah dipengaruhi dinamika atmosfer dan menandai peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Hujan di Bima masih singkat dan setempat
Di Bima, hujan mulai turun pada Sabtu, 31 Oktober. Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima Moch. Syaiful Annas menjelaskan, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) bersama kelembapan udara yang tinggi memicu hujan lokal.
Menurut Syaiful, hujan tersebut bersifat sporadis: durasinya singkat dan sebarannya tidak merata. Karena itu, air hujan yang turun belum berdampak besar terhadap kondisi kekeringan. Hujan sesaat juga tidak berarti seluruh wilayah Bima telah memasuki musim penghujan.
BMKG memperkirakan awal musim hujan di Bima dan Dompu berlangsung pada dasarian III Desember, yakni 21–31 Desember 2026. Sampai periode tersebut, masyarakat diminta tetap mengantisipasi keterbatasan air dan potensi kebakaran. Imbauan ini tetap berlaku meski hujan lokal sesekali terjadi.
Prakiraan cuaca untuk 30 Oktober hingga 5 November juga menyebut hujan lokal masih mungkin turun saat kondisi panas dan kering. Hujan dapat disertai petir serta angin kencang. Warga diminta menghindari pembakaran sampah atau pembukaan lahan dengan api, menghemat air, dan waspada terhadap genangan maupun sambaran petir.
Peluang hujan meningkat di sebagian NTB
Gambaran curah hujan di NTB masih beragam. Pada 21–31 Oktober, sebagian besar wilayah mencatat hujan hanya 0–10 milimeter per dasarian. Di sejumlah kecil lokasi, curah hujan masuk kategori menengah, yakni 51–150 milimeter. Catatan tertinggi berasal dari Pos Hujan Kotaraja, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur, dengan 104 milimeter selama periode itu.
Untuk 1–10 November, BMKG memperkirakan peluang hujan di atas 20 milimeter per dasarian melebihi 90 persen di hampir seluruh Pulau Lombok, Sumbawa Barat, dan sebagian Sumbawa. Perkiraan tersebut tidak mencakup seluruh wilayah NTB dengan peluang yang sama, sehingga kondisi di Bima tidak dapat disimpulkan hanya dari prediksi untuk pulau dan kabupaten lain.
Peluang hujan lebih dari 50 milimeter per dasarian juga diprakirakan di beberapa lokasi. Daerah yang disebut BMKG antara lain Mataram, Narmada, Lingsar, Gunungsari, Kediri, Pringgarata, Mantang, Batukliang Utara, Kopang, dan Jonggat. Peluangnya berkisar 50 persen hingga lebih dari 90 persen.
El Nino dan IOD masih perlu diwaspadai
ANTARA melaporkan, BMKG juga mencatat El Nino berada pada kategori sangat kuat dengan indeks ENSO +3,05 derajat Celsius. Fenomena itu diperkirakan berpotensi bertahan hingga awal 2027. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif dengan indeks +0,765 dan diprakirakan berlangsung sampai akhir 2026.
Kondisi tersebut menjadi alasan warga tetap perlu mengikuti perkembangan cuaca, kendati hujan mulai muncul di sejumlah tempat. BMKG mengimbau masyarakat memantau informasi resmi melalui kanal lembaga itu, termasuk aplikasi InfoBMKG. Untuk Bima dan Dompu, hujan lokal belum mengubah perkiraan awal musim hujan pada akhir Desember.
