Sejumlah tokoh pesantren asal Kabupaten Jombang masuk dalam kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026-2031. Susunan yang diumumkan pada Rabu, 30 September 2026, dipimpin KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum, dengan perwakilan Jombang tersebar di beberapa unsur organisasi.
Nama-nama tersebut berasal dari sejumlah pesantren, antara lain Tebuireng, Bahrul Ulum Tambakberas, Mambaul Ma’arif Denanyar, Darul Ulum Rejoso, dan Seblak. Mereka menempati posisi berbeda dalam struktur yang mencakup Mustasyar, Syuriyah, A’wan, serta Tanfidziyah.
Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, sebelumnya terpilih sebagai Ketua Umum dalam Muktamar NU ke-35. Forum tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026. Sementara itu, posisi Rais Aam PBNU dipercayakan kepada KH Miftachul Akhyar.
Kepengurusan PBNU 2026-2031 bertambah
Struktur kepengurusan PBNU periode ini terdiri atas 210 orang. Jumlah itu bertambah 21 orang dibandingkan masa khidmat 2021-2026, yang beranggotakan 189 orang.
Gus Kikin menjelaskan, penyusunan kepengurusan mempertimbangkan keterwakilan lintas generasi dan unsur kelembagaan di lingkungan NU. Ia menyebut komposisi pengurus dirancang agar berbagai jajaran dapat terwakili secara seimbang.
“Kita ingin ada pemerataan dari semua jajaran, dari generasi awal sampai akhir. Kemudian seluruh jajaran lembaga ditambah unsur lain, kita seimbang semuanya,” ujar Gus Kikin, dikutip dari Kompas.com, Minggu, 4 Oktober 2026.
Keterwakilan tokoh Jombang terlihat pada beragam posisi, bukan hanya di jajaran pimpinan. Sejumlah nama berasal dari lingkungan pesantren yang memiliki peran penting dalam kehidupan NU, sementara beberapa lainnya tercatat mengisi posisi di kepengurusan harian.
Tokoh Tebuireng dan Tambakberas masuk struktur
Dari Tebuireng, selain Gus Kikin, terdapat KH Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan. Pengasuh Pesantren Al-Faros itu juga tercatat dalam kepengurusan PBNU periode 2026-2031.
Pondok Pesantren Seblak diwakili H Nur Hidayat yang menempati posisi Wakil Sekretaris Jenderal. Sementara dari Bahrul Ulum Tambakberas, KH M Hasib Wahab tercatat sebagai Ketua. Nyai Hj Mahfudhoh Wahab dan Nyai Hj Chizbiyah Wahab masuk dalam jajaran Mustasyar.
Ketiganya merupakan putra-putri KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Masih dari lingkungan Tambakberas, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq dan KH Abdulloh Rif’an Nashir juga masuk dalam kepengurusan. Keduanya sebelumnya bertugas sebagai Ketua dan Sekretaris Panitia Lokal Muktamar NU ke-35.
Gus Rozaq, Abdulloh Rif’an Nashir, dan KH Abd Lathif Malik menempati posisi Katib. Dengan demikian, perwakilan dari Tambakberas hadir di beberapa bagian struktur, mulai dari jajaran Mustasyar hingga posisi kepengurusan lainnya.
Perwakilan Denanyar, Rejoso, dan Peterongan
Dari Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam tercatat sebagai A’wan PBNU. Adapun Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, diwakili KH Afifuddin Dimyathi atau Gus Awis, yang masuk dalam struktur sebagai Rais PBNU.
Nama lain dari Kabupaten Jombang adalah Aris Ariyanto, yang berasal dari Kecamatan Peterongan. Ia menempati posisi bendahara. Sementara H Nur Hidayat dari Seblak bertugas sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, melengkapi keterwakilan daerah tersebut dalam kepengurusan.
Masuknya sejumlah tokoh pesantren Jombang membuat keterwakilan daerah itu tersebar di beberapa unsur PBNU, termasuk Syuriyah, A’wan, Mustasyar, dan Tanfidziyah. Komposisi tersebut mempertemukan sejumlah lingkungan pesantren dalam satu kepengurusan nasional.
Susunan baru ini menjadi awal masa kerja PBNU 2026-2031. Setelah struktur diumumkan, perhatian berikutnya tertuju pada bagaimana pengurus menjalankan tugas dan menyatukan beragam unsur organisasi. Keterlibatan tokoh dari berbagai pesantren Jombang akan menjadi bagian dari kerja kolektif tersebut.
