Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta sejumlah perguruan tinggi mengkaji peningkatan penggunaan bahan berbasis kelapa sawit dalam pakan ayam. Upaya ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada bungkil kedelai atau soybean meal (SBM), salah satu bahan baku pakan unggas yang masih banyak diimpor.
Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, mengatakan substitusi bahan berbasis sawit berpotensi menekan kebutuhan impor apabila porsinya dalam formulasi pakan dapat ditingkatkan hingga lebih dari 10 persen. Saat ini, pemanfaatannya disebut masih berkisar 5 persen.
“Kalau bisa di atas 10%, ini riset-riset sedang dilakukan oleh teman-teman di BRIN dan perguruan tinggi. Kalau ini bisa di atas 10%, maka akan menurunkan impor SBM kita, bisa disubstitusi dari CPO ini. Mudah-mudahan ke depan risetnya makin cepat,” kata Makmun dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemendagri, 6 Oktober 2026.
SBM masih menjadi komponen besar pakan ayam
Besarnya porsi SBM dalam pakan menunjukkan bahwa industri unggas masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri. Dalam formulasi pakan ayam pedaging atau broiler yang dipaparkan Kementan, bahan baku impor mencakup sekitar 40 persen. SBM menjadi bagian terbesar, yakni 25 persen.
Bahan impor lain dalam pakan broiler meliputi distillers dried grains with solubles (DDGS) sebesar 5 persen, meat and bone meal (MBM) 3 persen, dan corn gluten meal (CGM) 3 persen. Ada pula poultry by-product meal atau hydrolyzed chicken feather meal sebesar 2 persen, mineral atau kalsium 1 persen, serta vitamin dan feed additive yang masing-masing menyumbang 0,5 persen.
Sementara itu, bahan baku lokal memasok sekitar 60 persen formulasi pakan broiler. Jagung menjadi komponen utama dengan porsi 45 persen. Dedak atau bahan lokal lainnya menyumbang 5 persen, begitu pula bungkil inti sawit (palm kernel meal/PKM) dan CPO atau lemak, yang masing-masing tercatat 5 persen.
Pada pakan ayam petelur atau layer, kontribusi bahan lokal lebih tinggi, sekitar 63 persen. Komposisinya terdiri atas jagung 45 persen, dedak atau bahan lokal lainnya 8 persen, serta PKM dan CPO atau lemak masing-masing 5 persen.
Produk sawit sudah digunakan, tetapi perlu riset
Bahan impor menyumbang sekitar 37 persen dalam formulasi pakan layer. Rinciannya antara lain SBM 20 persen, DDGS 7 persen, MBM dan CGM masing-masing 3 persen, serta poultry by-product meal atau hydrolyzed chicken feather meal 2 persen. Mineral atau kalsium tercatat 1 persen, sementara vitamin dan feed additive masing-masing 0,5 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian produk turunan sawit—khususnya PKM dan CPO atau lemak—telah masuk dalam formulasi pakan. Namun, peningkatan penggunaannya tidak bisa hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Komposisi harus sesuai dengan kebutuhan nutrisi unggas dan tidak mengganggu kesehatan maupun performa ternak.
Makmun menyebut karakteristik bahan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Tempurung sawit, misalnya, memiliki tekstur keras sehingga pemanfaatannya perlu dikaji lebih lanjut agar tidak mengganggu sistem pencernaan ayam. Karena itu, riset dibutuhkan untuk menentukan jenis bahan dan takaran yang tepat.
Substitusi bergantung pada hasil uji teknis
Pengembangan bahan pakan berbasis sawit berpeluang memperluas pemanfaatan produk turunan kelapa sawit di sektor peternakan. Namun, peluang tersebut masih bergantung pada hasil penelitian, termasuk pengujian aspek nutrisi, keamanan, dan kelayakan teknis dalam formulasi pakan.
Riset yang dilakukan Kementan bersama BRIN dan perguruan tinggi diharapkan dapat menemukan komposisi yang memungkinkan porsi bahan sawit ditingkatkan secara aman. Jika penggunaan bahan lokal itu dapat menggantikan sebagian SBM, kebutuhan impor berpotensi berkurang. Dampaknya terhadap biaya produksi peternak, bagaimanapun, masih bergantung pada hasil pengembangan dan penerapan formulasi tersebut.
Langkah berikutnya adalah memastikan hasil kajian dapat diterapkan dalam industri pakan tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi ayam. Dengan begitu, bahan berbasis sawit tidak hanya menjadi alternatif di atas kertas, tetapi juga dapat memperkuat hubungan antara industri kelapa sawit dan peternakan unggas.
