Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memperkuat surveilans infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di fasilitas pelayanan kesehatan. Langkah ini dilakukan untuk memantau potensi kenaikan kunjungan pasien dan mendeteksi kemungkinan munculnya kelompok kasus dengan gejala serupa.
Kepala Dinkes Kabupaten Kuningan Edi Martono mengatakan pemantauan dilakukan melalui sistem surveilans serta laporan dari puskesmas dan rumah sakit. Data tersebut diperlukan untuk melihat perkembangan kasus sekaligus membedakan jumlah kunjungan, pasien suspek, hasil pemeriksaan laboratorium, dan kasus yang telah terkonfirmasi.
Menurut Edi, peningkatan kunjungan pasien sekitar 30 persen belum bisa langsung dianggap sebagai kenaikan kasus Influenza A. Keluhan pernapasan dapat disebabkan berbagai penyakit, sehingga jenis virusnya hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.
“Angka kenaikan kunjungan itu belum bisa kita sebut sebagai Influenza A, karena pasien datang dengan berbagai penyakit dan untuk memastikan jenis virusnya harus melalui pemeriksaan laboratorium,” kata Edi.
Pelaporan dan pemantauan klaster diperkuat
Dinkes meminta petugas puskesmas dan rumah sakit meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya klaster di lingkungan tertentu, termasuk sekolah dan pesantren. Apabila ditemukan kelompok orang dengan gejala yang serupa, petugas diminta melakukan investigasi lapangan.
Koordinasi pelaporan antarfasilitas kesehatan juga menjadi bagian penting dari pemantauan. Dinkes ingin informasi mengenai kunjungan, suspek, pemeriksaan laboratorium, serta kasus terkonfirmasi tercatat secara terpisah dan tidak tercampur.
“Kami minta pelaporan dari puskesmas dan rumah sakit terus dikoordinasikan supaya data kunjungan, suspek, pemeriksaan laboratorium, dan kasus yang sudah terkonfirmasi tidak tercampur,” ujar Edi.
Pemisahan data itu diperlukan agar kenaikan jumlah pasien yang datang berobat tidak serta-merta dibaca sebagai peningkatan satu jenis penyakit. Dinkes menegaskan, kesimpulan mengenai penyebab keluhan membutuhkan hasil pemeriksaan, sementara pemantauan rutin membantu petugas mengikuti perkembangan kondisi di wilayah tersebut.
Kunjungan pasien RSUD 45 Kuningan meningkat
Di RSUD 45 Kuningan, kenaikan kunjungan selama September 2026 tercatat pada beberapa layanan. Kunjungan rawat inap meningkat sekitar 21 persen, rawat jalan hampir 40 persen, sedangkan kunjungan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) naik hampir 60 persen.
Kepala Bidang Pelayanan RSUD 45 Kuningan Yanuar Firdaus Sukardi menyebut, hingga 28 September 2026, jumlah kunjungan rawat jalan mendekati 7.000 pasien. Pada periode yang sama, kunjungan IGD telah melampaui 2.000 pasien.
Kelompok penyakit yang banyak ditangani memang mengarah pada ISPA. Namun, Yanuar mengatakan penyebabnya beragam, antara lain flu biasa, radang tenggorokan, dan radang amandel. Karena itu, tingginya kunjungan belum cukup untuk menyimpulkan adanya satu penyebab tertentu.
Pasien anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak datang berobat. Sementara itu, dari pasien rawat inap yang telah pulang hingga sekitar 20 September, tercatat 111 kasus dengan keluhan seperti demam, batuk pilek, nyeri saat menelan, nyeri otot, pusing, dan sebagian disertai diare.
Kesiapan tempat tidur dan rujukan
Untuk mengantisipasi kebutuhan layanan, RSUD 45 Kuningan menambah sejumlah tempat tidur rawat inap, terutama bagi pasien anak. Kapasitas keseluruhan rumah sakit tersebut sebanyak 204 tempat tidur.
Rumah sakit juga berkoordinasi dengan rumah sakit penyangga di sekitar Kuningan. Fasilitas itu disiapkan sebagai alternatif rujukan apabila tempat tidur di RSUD 45 tidak lagi tersedia.
Dinkes turut meminta fasilitas kesehatan memastikan kesiapan pelayanan, termasuk ketersediaan obat, oksigen, dan tempat tidur bagi pasien dengan kondisi berat. Pemantauan kasus dan kesiapan layanan berjalan beriringan, terutama saat kunjungan pasien meningkat.
Data kunjungan yang bertambah menjadi perhatian bagi layanan kesehatan, tetapi belum menjawab penyebab lonjakan keluhan. Dinkes Kuningan mengandalkan pelaporan yang terkoordinasi dan pemeriksaan laboratorium untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, sembari memastikan pasien yang membutuhkan perawatan tetap mendapat layanan dan rujukan.
