Empat gangguan mata—glaukoma, retinopati diabetik, katarak, serta masalah penglihatan pada anak—perlu diwaspadai karena gejalanya bisa tidak segera disadari. Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PP PERDAMI), Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K), M.Med.Ed, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu penglihatan terganggu sebelum memeriksakan mata.
“Banyak penyakit mata itu datangnya diam-diam,” kata Budu dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (13/10/2026). Menurut dia, sebagian penyakit berkembang perlahan tanpa keluhan yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, penderita baru mencari pertolongan ketika gangguan sudah memburuk.
Deteksi dini menjadi penting karena dampak tiap gangguan tidak sama. Ada kerusakan yang dapat ditangani, tetapi ada pula yang bersifat permanen. Berikut empat kondisi yang perlu mendapat perhatian.
Glaukoma dapat merusak saraf mata tanpa rasa sakit
Glaukoma kerap disebut sebagai “pencuri penglihatan” karena dapat merusak saraf optik secara perlahan, tanpa disertai rasa sakit yang mudah dikenali. Penyempitan lapang pandang umumnya berlangsung bertahap, terutama dari bagian tepi. Penderita bisa tidak menyadarinya sampai penglihatan semakin terganggu.
Kerusakan saraf mata yang telah terjadi akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan. Budu menegaskan bahwa pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk mempertahankan fungsi penglihatan yang masih tersisa. Pemeriksaan tekanan bola mata dan saraf optik dapat membantu mengenali kondisi tersebut.
Risiko terlambat mengetahui glaukoma muncul ketika seseorang hanya mengandalkan keluhan sebagai penanda. Saat gejala terasa jelas, kerusakan mungkin sudah berkembang. Karena itu, pemeriksaan mata berkala diperlukan, termasuk bagi orang yang belum merasakan perubahan penglihatan.
Retinopati diabetik bisa luput dari perhatian
Retinopati diabetik merupakan komplikasi diabetes yang merusak retina. Salah satu hal yang membuat kondisi ini berisiko terlambat dikenali adalah penglihatan penderita dapat tampak baik meski perubahan pada retina sudah terjadi.
Jika tidak ditangani, kerusakan retina berisiko menimbulkan gangguan penglihatan permanen. Penyandang diabetes dianjurkan memeriksakan retina secara rutin, termasuk menjalani pemeriksaan tahunan untuk mendeteksi perubahan sedini mungkin. Pemeriksaan tetap diperlukan meski belum ada keluhan yang terasa.
Pengenalan lebih awal memberi kesempatan untuk memperoleh pemeriksaan lanjutan dan penanganan yang sesuai. Namun, skrining saja tidak cukup. Pemeriksaan harus diikuti tindak lanjut apabila ditemukan masalah pada mata.
Katarak dan gangguan penglihatan anak perlu dikenali
Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan makin buram. Kondisi ini sering dikaitkan dengan pertambahan usia dan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Pada kelompok lanjut usia, gangguan penglihatan juga dapat meningkatkan risiko jatuh.
Berbeda dari glaukoma, gangguan penglihatan akibat katarak umumnya dapat ditangani melalui operasi. Operasi katarak termasuk pelayanan yang dijamin dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sesuai ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan tetap penting agar kondisi dapat dikenali dan penanganannya direncanakan.
Masalah penglihatan pada anak juga bisa luput dari perhatian. Anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan bahwa penglihatannya terganggu. Kelainan refraksi dan mata malas atau ambliopia termasuk kondisi yang perlu dikenali sejak dini.
Penanganan ambliopia dapat lebih sulit bila terlambat ditemukan karena ada masa perkembangan penglihatan yang penting pada usia anak. Orang tua dan guru dapat mengamati tanda seperti anak sering menyipitkan mata, mendekatkan wajah ke buku atau layar, atau kesulitan melihat tulisan di papan tulis. Pemeriksaan dini, termasuk skrining kesehatan di sekolah, membantu mengenali gangguan sebelum bertambah berat.
Pemeriksaan mata perlu menjadi kebiasaan
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, MA, mengingatkan bahwa pemeriksaan mata secara berkala sebaiknya menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan, bukan hanya dilakukan ketika keluhan muncul. Pemeriksaan di fasilitas kesehatan primer dapat membantu mengenali kelainan refraksi, katarak, glaukoma, dan retinopati untuk kemudian ditindaklanjuti.
Andi menekankan bahwa “skrining bukanlah tujuan akhir”. Setelah gangguan ditemukan, masyarakat perlu memperoleh pemeriksaan lanjutan dan penanganan yang sesuai. Bagi orang tua, guru, serta penyandang diabetes, memperhatikan tanda dan menjadwalkan pemeriksaan dapat menjadi langkah penting untuk menjaga penglihatan tetap berfungsi.
