Massif Saririaky, formasi anortosit berusia sedikitnya 600 juta tahun di Madagaskar selatan, tampak mencolok di tengah lanskap kering kawasan itu. Dari luar angkasa, batuan berwarna cerah tersebut terlihat berbeda dari batuan di sekelilingnya—dan memiliki kemiripan dengan material yang membentuk sebagian besar dataran tinggi Bulan.
Formasi ini terpapar di permukaan Bumi dan mencakup wilayah sekitar 100 kilometer persegi. Foto yang diambil seorang astronaut dari Stasiun Luar Angkasa Internasional memperlihatkan bentuk massif Saririaky yang menonjol di antara bentang alam sekitarnya.
Anortosit merupakan batuan beku yang juga ditemukan di sejumlah wilayah lain, seperti Kanada timur, Skandinavia, dan India selatan. Namun, keberadaannya di Bulan membuat batuan ini punya arti khusus bagi penelitian geologi, baik untuk memahami sejarah Bumi maupun proses awal terbentuknya kerak Bulan.
Anortosit Saririaky terbentuk jauh di bawah permukaan
Anortosit tergolong batuan beku intrusif. Artinya, batuan ini terbentuk ketika material cair mendingin dan mengeras di bawah permukaan Bumi. Proses pendinginan yang berlangsung di dalam kerak memberi waktu bagi mineral untuk tumbuh menjadi kristal berukuran relatif besar.
Penelitian geologi menempatkan pembentukan Saririaky pada akhir zaman Prekambrium. Usianya diperkirakan sekurang-kurangnya 600 juta tahun, jauh sebelum bentuk benua dan lanskap yang dikenal sekarang terbentuk.
Warna cerahnya menjadi salah satu ciri yang membuat formasi itu mudah dikenali. Anortosit serupa menyusun bagian luas dataran tinggi Bulan yang terang dan memantulkan cahaya. Bagian-bagian tersebut bahkan dapat terlihat dari Bumi ketika Bulan diamati dengan mata telanjang.
Meski demikian, Saririaky bukan batuan yang terbentuk di Bulan. Kesamaannya terletak pada jenis batuan dan komposisi geologisnya. Di Bumi, endapan anortosit juga ditemukan di beberapa kawasan, tetapi formasi Saririaky menjadi salah satu yang menonjol karena ukurannya dan kontrasnya terhadap lingkungan sekitar.
Jejak tekanan tektonik di sekitar massif
Kisah geologi Saririaky tidak hanya tersimpan pada batuan anortositnya. Massif itu berada di zona geser duktil, tempat batuan mengalami tekanan kuat di kedalaman kerak. Dalam kondisi suhu dan tekanan tinggi, batuan padat dapat melengkung, meregang, dan berubah bentuk secara bertahap, bukan sekadar pecah.
Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi mineral dan tekstur batuan. Proses perubahan akibat tekanan dan panas itu dikenal sebagai metamorfisme. Di kawasan sekitar Saririaky, para peneliti mengidentifikasi pola geologi panjang yang kira-kira sejajar dan membentang dari utara ke selatan. Pola itu menjadi petunjuk deformasi besar yang pernah terjadi.
Para ilmuwan mengaitkan sebagian perubahan tersebut dengan tabrakan benua purba saat Gondwana terbentuk. Superbenua itu pernah mencakup bagian dari wilayah yang kini menjadi Afrika, India, Madagaskar, Australia, dan Antarktika. Ketika fragmen-fragmen benua bergabung, tekanan dan panas yang besar membentuk ulang bagian-bagian kerak Bumi.
Sekitar 60 kilometer di utara Saririaky terdapat massif anortosit lain di zona geser yang sama. Sejumlah peneliti menduga kedua formasi itu dahulu merupakan satu massa batuan, sebelum gaya tektonik meregangkan dan memisahkannya.
Hubungan batuan Madagaskar dengan sejarah Bulan
Jika dugaan itu benar, kedua massif menyimpan petunjuk tentang kekuatan geologis yang bekerja saat pembentukan Gondwana. Proses yang diduga memisahkan massa batuan tersebut disebut boudinage: lapisan atau massa yang relatif kuat tertarik menjadi segmen-segmen ketika material di sekelilingnya mengalami deformasi.
Anortosit juga membantu ilmuwan menelusuri masa awal Bulan. Dataran tinggi Bulan yang kaya batuan ini berusia lebih dari empat miliar tahun. Para peneliti meyakini anortosit terbentuk ketika permukaan Bulan masih diselimuti lautan magma yang luas dan kemudian mendingin.
Dalam proses pendinginan itu, mineral tertentu mengkristal dan terkumpul dekat permukaan, ikut membentuk kerak awal Bulan. Sampel anortosit yang dibawa astronaut Apollo ke Bumi telah menjadi bahan penting untuk penelitian. Namun, jumlah batuan Bulan yang tersedia terbatas, sehingga formasi serupa di Bumi seperti Saririaky dapat membantu memperluas kajian.
Formasi Madagaskar ini menunjukkan bagaimana satu kawasan dapat menyimpan jejak dua kisah sekaligus: perubahan kerak Bumi pada masa lampau dan proses yang membentuk permukaan Bulan. Penelitian lebih lanjut terhadap anortosit dan struktur di sekitarnya berpotensi memperjelas hubungan antara batuan, pergerakan benua purba, dan sejarah awal benda langit tetangga Bumi itu.
