Peta potensi awan Cumulonimbus (Cb) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk 29 Oktober hingga 4 November 2026 menempatkan Papua Pegunungan, Papua Tengah, serta Samudra Hindia di barat Bengkulu dalam kategori cakupan spasial tertinggi. Namun, angka cakupan pada peta tersebut bukan ukuran peluang hujan di wilayah bersangkutan.
BMKG membagi sebaran potensi awan Cb ke dalam sejumlah kategori berdasarkan luas cakupan spasial. Informasi itu merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan untuk melihat potensi pertumbuhan awan selama tujuh hari, bukan pengganti prakiraan hujan ataupun peringatan dini cuaca ekstrem.
Perbedaan fungsi ini penting diperhatikan saat membaca peta. Kategori yang menunjukkan sebaran awan tidak berarti seluruh daerah yang disebut akan mengalami hujan dengan intensitas tertentu. Kompas.tv melaporkan peta tersebut mencakup wilayah daratan dan perairan Indonesia.
Tiga wilayah masuk kategori cakupan tertinggi
Dalam produk BMKG, kategori Frequent (FRQ) menggambarkan potensi awan Cb dengan cakupan spasial lebih dari 75 persen. Untuk periode prakiraan kali ini, wilayah yang disebut dalam kategori itu ialah Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Samudra Hindia di barat Bengkulu.
Kategori tersebut menjelaskan luas cakupan spasial maksimum, bukan persentase kemungkinan hujan. Karena itu, angka di atas 75 persen tidak dapat dibaca sebagai kepastian bahwa hujan akan turun di lebih dari tiga perempat wilayah atau sebagai ukuran intensitas hujannya.
Informasi ini berlaku selama tujuh hari, dari 29 Oktober sampai 4 November 2026. Peta tersebut disusun menggunakan model cuaca numerik dan ditujukan untuk menyampaikan sebaran potensi awan Cb, menurut keterangan yang dimuat Kompas.tv.
Wilayah OCNL tersebar dari Sumatera hingga Papua
BMKG juga memprakirakan kategori Occasional (OCNL), dengan cakupan spasial maksimum 50 hingga 75 persen, di banyak bagian Indonesia. Di Sumatera, wilayah yang tercantum meliputi Aceh, Bengkulu, Jambi, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau.
Di Pulau Jawa, kategori OCNL diprakirakan mencakup Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Adapun di Kalimantan, daftar wilayahnya meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta Kalimantan Utara.
Untuk kawasan Sulawesi, wilayah yang masuk kategori ini ialah Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Maluku dan Maluku Utara juga tercantum dalam prakiraan OCNL.
Di Papua, cakupan kategori OCNL meliputi Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah. Dengan demikian, Papua Pegunungan serta Papua Tengah tercatat dalam kategori FRQ sekaligus disebut pada daftar OCNL. Kategori-kategori itu merupakan pemetaan potensi pada produk prakiraan, bukan keterangan bahwa satu wilayah akan selalu tertutup awan selama periode tersebut.
BMKG juga memasukkan kawasan perairan dalam pemetaan potensi Cb. Informasi yang dimuat Kompas.tv menyebut sejumlah perairan, termasuk bagian Samudra Hindia, masuk kategori OCNL. Rincian nama wilayah perairan tidak dicantumkan dalam daftar yang tersedia di laporan tersebut.
Peta awan berbeda dari peringatan hujan
BMKG menggunakan model cuaca numerik untuk menghasilkan produk prakiraan pertumbuhan awan Cb. Cakupan spasial di dalam produk itu menggambarkan sebaran awan yang diprakirakan, bukan probabilitas hujan setempat. Pembaca perlu membedakannya dari informasi prakiraan hujan dan peringatan dini cuaca ekstrem yang diterbitkan melalui produk BMKG lainnya.
Perbedaan tersebut juga berarti peta awan tidak dengan sendirinya menjelaskan kondisi hujan di setiap kota atau kabupaten. Untuk mengetahui prakiraan hujan maupun peringatan dini yang lebih spesifik, masyarakat perlu merujuk pada produk BMKG yang memang memuat informasi tersebut. Peta Cb ini memberi gambaran sebaran untuk periode tujuh hari, sementara jenis informasi lainnya memiliki fungsi berbeda.
Jangka prakiraan dalam laporan ini berakhir pada 4 November 2026. Pemetaan untuk periode berikutnya akan mengikuti produk prakiraan BMKG selanjutnya, sedangkan informasi hujan dan cuaca ekstrem tetap perlu dibaca dari kanal prakiraan serta peringatan dini yang terpisah.
