Dinas Kesehatan Kota Bengkulu menyatakan warga binaan yang menjalani skrining HIV/AIDS di tiga lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan setempat tidak terindikasi mengidap penyakit tersebut. Pemeriksaan berlangsung pada akhir November hingga awal Desember 2024, di tengah bertambahnya jumlah kasus HIV/AIDS di kota itu.
Kepala Dinkes Kota Bengkulu Joni Haryadi Tabrani menyebut, secara keseluruhan 280 warga binaan telah menjalani skrining. Pemeriksaan dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Bengkulu, Rutan Kelas IIB Bengkulu, dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Bengkulu.
“Untuk jumlah pengidap HIV ini sekarang bertambah 11 orang dari awal November kemarin, untuk totalnya sekarang ada 133 kasus,” kata Joni, Kamis, 12 Desember 2024.
Skrining HIV dilakukan di tiga fasilitas pemasyarakatan
Rangkaian pemeriksaan dimulai di Lapas Perempuan Kelas IIB Bengkulu pada Sabtu, 30 November 2024. Sebanyak 60 warga binaan di lapas yang berada di Jalan WR Supratman, Kelurahan Kandang Limun, Kecamatan Muara Bangka Hulu, tercatat mengikuti skrining.
Selanjutnya, petugas mendatangi Rutan Kelas IIB Bengkulu di kawasan Malabero pada Kamis, 5 Desember 2024. Di lokasi ini, 170 warga binaan menjalani pemeriksaan. Dinkes Kota Bengkulu melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) melaksanakan kegiatan tersebut sebagai upaya skrining HIV/AIDS di lingkungan lapas dan rutan.
Pemeriksaan berlanjut pada Senin, 9 Desember 2024, di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Bengkulu. Sebanyak 60 warga binaan mengikuti skrining di fasilitas tersebut. Dengan demikian, kegiatan berlangsung dalam tiga tahap dan melibatkan warga binaan dari fasilitas perempuan, rutan, serta pembinaan khusus anak.
Rincian jumlah peserta perlu dicermati
Catatan jumlah peserta dalam laporan tersebut memuat perbedaan. Dinkes menyebut total warga binaan yang diperiksa sebanyak 280 orang, sementara rincian pada tiga lokasi mencantumkan 60 orang di lapas perempuan, 170 orang di rutan, dan 60 orang di lembaga pembinaan khusus anak. Jika dijumlahkan, angka per lokasi itu menjadi 290 orang.
Laporan yang sama menyatakan 280 warga binaan di lapas dan rutan Kota Bengkulu dipastikan negatif HIV/AIDS. Namun, karena angka total dan penjumlahan rincian lokasi tidak sama, jumlah keseluruhan peserta perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak terkait. Rincian yang tersedia tidak menjelaskan penyebab perbedaan tersebut.
Dalam keterangan foto kegiatan, skrining disebut melibatkan petugas Dinkes Kota Bengkulu bersama Tim HIV dari Puskesmas Pasar Ikan dan Puskesmas Sukamerindu. Keterangan itu menunjukkan keterlibatan layanan kesehatan puskesmas dalam kegiatan pemeriksaan, meski laporan tidak merinci pembagian tugas masing-masing tim.
Kasus HIV/AIDS Kota Bengkulu bertambah 11
Di luar hasil skrining warga binaan, Dinkes Kota Bengkulu mencatat 133 kasus HIV/AIDS hingga awal Desember 2024. Jumlah itu bertambah 11 kasus dibandingkan catatan pada awal November. Joni menyampaikan angka tersebut berdasarkan data dinas yang dipimpinnya.
Pelaksanaan skrining di sejumlah fasilitas pemasyarakatan berlangsung pada periode ketika jumlah kasus di tingkat kota mengalami kenaikan. Dinkes menyebut pemeriksaan terhadap warga binaan dilakukan untuk menghindari lonjakan kasus HIV. Meski hasil yang disampaikan untuk peserta skrining dinyatakan negatif, laporan tidak merinci metode pemeriksaan maupun tindak lanjut setelah kegiatan.
Perkembangan angka kasus dan kegiatan pemeriksaan berikutnya akan menjadi bagian penting dari pemantauan kesehatan di Kota Bengkulu. Untuk membaca hasil kegiatan secara utuh, publik juga memerlukan data yang konsisten mengenai jumlah peserta di tiap lokasi, terutama karena rincian yang tersedia saat ini belum sesuai dengan angka total yang diumumkan.
