Cadangan air di Bulan bisa menentukan seberapa besar permukiman yang kelak mampu dibangun manusia di sana. Meski es di kawah-kawah kutub membuka peluang untuk tinggal lebih lama, perhitungan awal menunjukkan bahwa bahkan cadangan satu miliar ton air belum tentu cukup bagi kota berpenduduk besar tanpa sistem daur ulang yang efisien.
Air bukan sekadar kebutuhan minum bagi calon penghuni Bulan. Sumber daya ini juga penting untuk kebutuhan sehari-hari dan, jika dapat diolah, mendukung kegiatan seperti menanam makanan. Mengambilnya langsung dari Bulan akan mengurangi ketergantungan pada pasokan yang harus dikirim dari Bumi—sebuah pertimbangan penting jika misi singkat berkembang menjadi permukiman permanen.
Jumlah penduduk menentukan daya tahan air
Penilaian kelayakan awal membandingkan kebutuhan air dan listrik untuk kota berpenduduk 100.000 orang dan satu juta orang. Dalam skenario dengan cadangan air satu miliar ton, kota tanpa daur ulang akan menghabiskan persediaannya dalam hitungan beberapa tahun. Besarnya cadangan saja, dengan demikian, tidak menjamin kota dapat bertahan lama.
Gambaran berubah jika air digunakan kembali. Teknologi yang sebanding dengan sistem di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mampu mendaur ulang sekitar 98 persen air yang dipakai. Dengan tingkat efisiensi tersebut, cadangan satu miliar ton diperkirakan dapat menopang kota berpenduduk satu juta orang selama lebih dari satu abad.
Namun, daur ulang bukan berarti seluruh air kembali ke sistem. Sebagian kecil tetap hilang pada setiap siklus. Kehilangan yang tampak terbatas itu terus terakumulasi, terutama ketika jumlah penghuni mencapai jutaan orang. Karena itu, perencanaan kota di Bulan harus memperhitungkan bukan hanya kebutuhan awal, tetapi juga kehilangan air dalam jangka panjang.
Cadangan yang dapat diakses mungkin jauh lebih kecil
Angka satu miliar ton dalam perhitungan tersebut merupakan skenario untuk menguji ketahanan pasokan, bukan gambaran pasti jumlah air yang bisa digunakan. Perkiraan saat ini menyebut total air yang dapat diakses di Bulan hanya sekitar satu per tiga puluh dari angka itu. Jika perkiraan tersebut tepat, waktu yang tersedia sebelum cadangan menipis pun akan jauh lebih singkat.
Dalam kondisi itu, sebuah kota kecil pun berpotensi menghabiskan persediaannya dalam sekitar satu dekade. Sebaliknya, bila air dialokasikan untuk kelompok yang lebih terbatas—misalnya desa dengan sekitar 1.000 penduduk atau kota berisi 10.000 orang—cadangan tersebut dapat bertahan selama berabad-abad atau lebih, menurut perkiraan yang dirujuk dalam penilaian awal.
Perbedaan skala ini menunjukkan bahwa jumlah penghuni bukan urusan belakangan. Populasi akan menentukan seberapa cepat air digunakan, seberapa besar sistem daur ulang yang dibutuhkan, dan apakah rencana permukiman dapat berlanjut dari pangkalan penelitian menjadi kota. Ambisi membangun industri berat atau kota yang mandiri di Bulan, termasuk gagasan yang pernah disampaikan Jeff Bezos dan Elon Musk, akan bergantung pada kemampuan mengamankan pasokan air dalam jumlah besar.
Kutub Bulan menyimpan peluang sekaligus tantangan
Wilayah kutub menarik bagi perencana karena mempertemukan dua kondisi yang jarang hadir berdekatan: kemungkinan adanya es di dasar kawah dan paparan sinar matahari yang lama di tepian kawah. Secara teori, permukiman dapat mengambil air dari bagian kawah yang gelap, sementara panel surya ditempatkan di area yang lebih sering terkena cahaya.
Sejumlah dasar kawah di dekat kutub tidak menerima sinar Matahari langsung selama sekitar empat miliar tahun. Area yang dikenal sebagai kawasan gelap permanen itu memiliki suhu sekitar minus 163 derajat Celsius. Kondisi sangat dingin membuatnya menjadi perangkap bagi es, yang terlindung dari pemanasan langsung dan dapat bertahan dalam waktu panjang.
Di permukaan Bulan yang nyaris tanpa atmosfer, es di lokasi seperti itu diperkirakan hanya kehilangan ketebalan maksimal sekitar satu milimeter dalam satu miliar tahun akibat sublimasi—perubahan langsung dari padat menjadi uap. Sejak 2013, sejumlah wahana yang mengorbit Bulan turut memberikan bukti keberadaan air di kawasan kutub dan membantu memetakan lokasi yang mungkin mengandung es.
Hunian permanen masih bergantung pada efisiensi
Di sisi lain, tepian kawah yang mendapat sinar Matahari hampir terus-menerus dapat menawarkan sumber energi. Sebutan puncak Matahari abadi memang tidak sepenuhnya harfiah, tetapi beberapa lokasi kutub diketahui memperoleh paparan cahaya dalam waktu sangat lama. Kombinasi ini menjadikan kawasan tersebut menarik, meski pemanfaatannya tetap memerlukan teknologi untuk mengambil es dan mengelola energi.
Temuan es belum otomatis membuat kota Bulan layak dihuni. Air yang benar-benar bisa diakses, tingkat daur ulang, dan jumlah penduduk akan saling menentukan. Sebelum ambisi permukiman berkembang menjadi kota besar, manusia perlu menemukan sumber air tambahan atau menggunakan persediaan yang ada dengan jauh lebih efisien. Keputusan mengenai skala hunian kemungkinan menjadi salah satu langkah awal paling penting dalam merancang masa depan manusia di Bulan.
