Sergio Conceicao menilai sulit berpihak dalam polemik antara Cristiano Ronaldo dan Jorge Jesus. Mantan pelatih Al Ittihad itu menyebut keduanya memiliki posisi penting di sepak bola Portugal: Ronaldo sebagai legenda lapangan hijau, sedangkan Jesus sebagai pelatih yang dihormati dan berpengalaman.
Conceicao menyampaikan pandangannya saat berbicara dalam podcast La Tripletta milik surat kabar Italia, Gazzetta dello Sport. Ia mengatakan persoalan tersebut sensitif di negaranya dan menganggap memilih salah satu pihak tanpa mempertimbangkan pihak lain bukan sikap yang adil.
“Cristiano adalah legenda, salah satu dari lima pemain terbaik sepanjang sejarah. Di sisi lain, Jesus adalah pelatih timnas, pelatih yang dihormati dan memiliki pengalaman luas. Terus terang, rasanya tidak adil berpihak pada salah satu dari mereka tanpa yang lain,” kata Conceicao.
Conceicao tak ingin memilih kubu dalam polemik Portugal
Pernyataan itu menempatkan Conceicao di tengah perdebatan yang melibatkan dua nama besar sepak bola Portugal. Ia tidak menyatakan dukungan kepada Ronaldo ataupun Jesus. Sebaliknya, ia menekankan besarnya kontribusi dan reputasi masing-masing, sehingga persoalan tersebut tidak bisa disikapi dengan membela satu pihak saja.
Bahan pembicaraan yang tersedia tidak merinci pemicu maupun jalannya perselisihan Ronaldo dan Jesus. Conceicao pun tidak menguraikan pokok masalah itu lebih jauh dalam kutipan yang disampaikan. Fokus jawabannya adalah sensitivitas situasi dan alasan ia enggan mengambil posisi yang dapat dinilai merugikan salah satu tokoh.
Ronaldo disebut sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, sementara Jesus digambarkan sebagai pelatih yang memiliki pengalaman panjang serta rasa hormat di dunia sepak bola. Bagi Conceicao, kedua hal itu membuat polemik tersebut tak sederhana untuk ditanggapi secara terbuka.
Figo dan Ronaldo dalam pandangan Conceicao
Dalam podcast yang sama, Conceicao juga berbicara tentang pemain sayap terbaik. Ia sempat membandingkan dirinya dengan putranya, Francisco Conceicao, yang juga berkarier sebagai pesepak bola. Ketika ditanya siapa yang lebih baik di antara mereka, Conceicao menjawab “Sergio!” sambil tertawa, lalu meralat jawabannya dengan menyebut Luis Figo.
Ia kemudian mendapat pertanyaan apakah Figo juga lebih unggul daripada Ronaldo. Conceicao mengakui pilihan itu sulit, tetapi menilai Figo sebagai pemain sayap yang luar biasa. Jika harus memilih berdasarkan posisi tersebut, ia cenderung mengunggulkan mantan bintang Portugal itu.
“Sebagai pemain sayap, saya mungkin akan memilih Figo, dia benar-benar pemain yang luar biasa.”
Jawaban itu menunjukkan bahwa penilaian Conceicao bergantung pada konteks yang ditanyakan. Ia tidak menempatkan Figo di atas Ronaldo dalam semua aspek, melainkan menyampaikan preferensi khusus untuk posisi sayap. Seperti saat membahas polemik Ronaldo dan Jesus, ia memilih menjelaskan batas penilaiannya, bukan memberi jawaban yang berlaku untuk semua keadaan.
Masa depan Conceicao dan peluang kembali ke Italia
Di luar pembicaraan tentang sepak bola Portugal, Conceicao turut menyinggung kemungkinan kembali melatih di Italia. Pelatih berusia 51 tahun itu belum memiliki klub sejak meninggalkan Al Ittihad. Sebelumnya, ia menangani Milan pada musim 2024-2025.
Conceicao tidak menutup pintu untuk kembali ke Liga Italia. Ia mengatakan sangat ingin mendapat pengalaman baru di negara tersebut dan menyebut bahwa pada masa lalu pernah ada pilihan lain selain Milan.
“Mengapa tidak? Saya sangat ingin itu. Di masa lalu, selain Milan, ada opsi-opsi lain,” ujarnya.
Pernyataan Conceicao membuka kemungkinan bagi kelanjutan kariernya di Italia, meski ia belum mengumumkan klub tujuan. Sementara polemik Ronaldo dan Jesus masih menjadi sorotan, ia memilih menyampaikan sikap yang berhati-hati: mengakui besarnya nama kedua tokoh tanpa mengubah perbedaan itu menjadi dukungan kepada salah satu kubu.
