Garis-garis keemasan tampak mengalir dari salah satu patung di Washington DC, beberapa bulan setelah restorasi besar-besaran selesai. Foto yang beredar di media sosial itu memunculkan dugaan lapisan pada patung tersebut rusak, sekaligus pertanyaan tentang bahan yang digunakan dalam proyek senilai sekitar US$ 5 juta atau Rp 90 miliar.
Patung berbentuk manusia dan kuda itu merupakan bagian dari dua monumen bernama Arts of War dan Arts of Peace. Keduanya berada di kawasan antara Lincoln Memorial dan Memorial Circle. Pemerintah belum memastikan penyebab perubahan pada permukaan patung yang terlihat dalam foto.
Seperti dilaporkan detikcom dengan mengutip The Mirror US, gambar yang ramai dibicarakan memperlihatkan garis berwarna emas turun hingga ke bagian alas salah satu patung. Sebutan “meleleh” muncul dalam perbincangan warganet, tetapi belum ada keterangan resmi yang memastikan bahwa lapisan patung benar-benar mencair.
Biaya restorasi naik dua kali lipat
Proyek pemugaran dikerjakan oleh The Gilder’s Studio, firma yang berbasis di Maryland. Kontrak diberikan tanpa proses tender, menurut laporan detikcom. Anggaran awalnya US$ 2,5 juta, atau sekitar Rp 45 miliar. Dalam pelaksanaan, biayanya membengkak menjadi US$ 5 juta, setara kurang lebih Rp 90 miliar.
Pekerjaan itu bukan semata-mata pelapisan ulang. Patung dibersihkan, sementara struktur granit pada bagian alas distabilkan. Sebelumnya, granit tersebut berubah warna keunguan akibat aliran tembaga dari patung perunggu yang menua. Selama pengerjaan, patung tertutup perancah, terpal, dan pagar proyek.
Presiden Donald Trump menginginkan patung-patung itu diberi lapisan emas 24 karat dan dipamerkan menjelang perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Ia semula menyampaikan rencana peresmian pada 3 Juli. Namun, target tersebut tidak tercapai. Patung kembali tampak pada akhir Juli 2026, ketika perancah mulai dibongkar.
Trump juga mengunggah pembongkaran perancah di akun Truth Social. Dalam unggahan yang dikutip New York Post, ia menulis: “Perancah di sekitar patung Arts of War yang telah dilapisi emas kembali sedang dibongkar!”
Warganet mempertanyakan bahan pelapis
Foto yang muncul belakangan membuat sebagian pengguna media sosial meragukan apakah lapisan yang digunakan benar-benar emas. Mereka beralasan emas tidak mudah meleleh dalam cuaca biasa. Seorang pengguna X mengingatkan bahwa emas baru meleleh pada suhu sekitar 2.000 derajat Fahrenheit dan menilai Washington tidak sedang mengalami gelombang panas.
Pengguna lain menduga bahan pelapisnya mungkin berupa lembaran emas imitasi yang mengandung tembaga dan seng. Namun, dugaan tersebut berasal dari warganet dan belum dikonfirmasi oleh pihak yang mengerjakan proyek ataupun National Park Service. Karena itu, foto yang beredar belum cukup untuk memastikan jenis material atau penyebab garis-garis pada patung.
The Mirror US, sebagaimana diberitakan detikcom, telah meminta penjelasan kepada Gedung Putih dan National Park Service. Informasi yang tersedia belum memuat jawaban dari kedua pihak. Hingga ada keterangan teknis, kondisi yang tampak pada foto tetap menjadi bahan perdebatan, bukan bukti bahwa emas pada patung mencair.
Masalah juga muncul di Kolam Refleksi
Perbincangan mengenai patung muncul setelah proyek renovasi lain di Washington juga dilaporkan menghadapi kerusakan. Kolam Refleksi di Lincoln Memorial mengalami pertumbuhan alga hijau, vandalisme, dan cat yang mengelupas setelah direnovasi. Pekerjaan pengecatan dasar kolam dengan warna biru diperkirakan menelan biaya setidaknya US$ 13 juta atau sekitar Rp 235,6 miliar.
Kolam itu kemudian perlu dikuras dan diperbaiki, termasuk dengan penggunaan hidrogen peroksida untuk membersihkan alga. Jaksa Agung AS untuk Washington DC, Jeanine Pirro, berjanji menuntut siapa pun yang terbukti merusak kolam tersebut. Untuk patung, perhatian berikutnya tertuju pada penjelasan resmi mengenai lapisan dan kondisi permukaannya.
