Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan kecerdasan buatan (AI) untuk menjawab persoalan di lingkungan industri. Karya mereka mencakup pemantauan risiko ergonomi pekerja pabrik, pengawasan suhu truk berpendingin, hingga deteksi kontaminan dalam proses daur ulang kertas.
Proyek tersebut dikembangkan oleh Izhar Alif Akbar, Tsabita Khoirunnisa, dan Muhammad Taufiq Al Fikri. Ketiganya menunjukkan bagaimana kemampuan komputasi dan keterampilan teknis dapat digunakan untuk membangun solusi yang menyasar kebutuhan nyata, bukan sebatas mengoperasikan teknologi AI yang tersedia.
Tiga proyek AI mahasiswa ITB untuk kebutuhan industri
Izhar, mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, mengembangkan REBA.ai. Sistem berbasis computer vision ini menggunakan rekaman CCTV untuk memantau risiko ergonomi pekerja di pabrik. Penggunaan kamera pengawas sebagai sumber data memungkinkan sistem mengamati aktivitas kerja, lalu membantu mengenali potensi risiko ergonomi.
Tsabita mengembangkan ColdTrack AI, sistem pemantauan prediktif untuk truk berpendingin. Teknologi ini dirancang mendeteksi gangguan suhu agar kondisi muatan tetap terjaga selama berada di kendaraan. Dalam pengangkutan yang membutuhkan suhu tertentu, gangguan pada sistem pendingin dapat menjadi perhatian penting bagi penjagaan kualitas muatan.
Sementara itu, Muhammad Taufiq Al Fikri membuat RecycledFiberAI. Sistem computer vision tersebut ditujukan untuk mendeteksi kontaminan seperti plastik dan logam dalam proses daur ulang kertas secara real-time. Dengan kemampuan mengenali material yang tidak diinginkan saat proses berlangsung, proyek ini menyasar persoalan pemilahan bahan dalam kegiatan daur ulang.
Ketiga proyek itu memiliki fokus berbeda, tetapi berangkat dari pendekatan serupa: memanfaatkan AI dan pengolahan visual untuk membantu mengidentifikasi masalah. Penerapannya berada pada bidang yang konkret, dari keselamatan dan kondisi kerja di pabrik sampai pengawasan muatan serta pengolahan material.
Kolaborasi ITB dan NVIDIA masih berupa proyek percontohan
Country Consumer Business Lead Indonesia NVIDIA, Adrian Lesmono, mengatakan kerja sama dengan ITB dirancang untuk membantu mahasiswa mempersiapkan diri memasuki dunia industri. Bentuk dukungan yang disiapkan antara lain pendampingan dan praktik kerja berskala kecil selama mahasiswa masih menempuh pendidikan.
“Kita bakal membangun kerja sama NVIDIA dengan ITB. Jadi semacam mentoring, mini internship,” ujar Adrian, Selasa (20/10/2026).
Menurut Adrian, program tersebut masih berada pada tahap uji coba atau pilot project. NVIDIA akan mengeksplorasi kemungkinan melanjutkannya dalam jangka panjang apabila pelaksanaannya berjalan baik. Ia menyebut pertemuan antara talenta mahasiswa dan proyek yang memiliki penerapan nyata sebagai alasan untuk melihat peluang pengembangan program.
Adrian menilai kualitas proyek yang dikembangkan mahasiswa ITB memberi potensi bagi inisiatif itu untuk berlanjut. Namun, rencana jangka panjang masih bergantung pada hasil tahap percontohan dan eksplorasi selanjutnya. Karena itu, bentuk kelanjutan program belum dipastikan.
Akses AI terbuka, kemampuan kritis tetap diperlukan
Adrian juga menekankan bahwa peluang menjadi pengembang solusi AI tidak hanya terbuka bagi mahasiswa yang memiliki perangkat mahal. Menurut dia, layanan AI gratis dapat digunakan sebagai langkah awal untuk bereksperimen sebelum seseorang mengembangkan solusi yang lebih kompleks.
Ia melihat potensi AI builder di Indonesia berhubungan dengan banyaknya pelajar dan mahasiswa yang tertarik membangun solusi berbasis AI. Pandangan itu sejalan dengan pesan bahwa kemampuan mengembangkan teknologi dapat dimulai dari rasa ingin tahu dan kemauan untuk mencoba, bukan semata-mata ditentukan oleh kepemilikan perangkat canggih.
Plt Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Edwan Kardena, menyatakan perkembangan AI tidak dapat dihindari oleh mahasiswa maupun dosen. Perguruan tinggi, kata dia, perlu beradaptasi agar teknologi tersebut mendukung pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Edwan juga menyoroti perlunya keterampilan nonteknis, termasuk komunikasi, kerja sama tim, dan kemampuan berbahasa. Menurut dia, pembelajaran sebaiknya tidak hanya mengejar hasil akhir, tetapi membantu mahasiswa memahami persoalan dan mencari jalan keluar secara mandiri.
Untuk mendukung pemanfaatan AI yang bijaksana, merata, dan optimal, ITB tengah menyusun regulasi internal terkait penggunaan teknologi tersebut di lingkungan kampus. Pengembangan proyek mahasiswa dan penyesuaian aturan kampus menjadi dua bagian dari upaya menghadapi perubahan teknologi. Ke depan, tantangannya bukan hanya membuat AI bekerja, melainkan memastikan penggunaannya tetap memperkuat proses belajar dan menghasilkan solusi yang bermanfaat.
