Napas terengah-engah setelah naik tangga bisa terjadi karena jantung belum terbiasa menghadapi aktivitas fisik tersebut. Namun, sesak yang terasa berlebihan saat melakukan kegiatan ringan dan muncul berulang kali sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda tubuh kurang bugar. Keluhan itu juga dapat berkaitan dengan gangguan irama atau fungsi jantung.
Spesialis jantung dan pembuluh darah dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr Budi Ario Tejo, SpJP(K), menjelaskan bahwa ngos-ngosan saat menaiki tangga tidak otomatis berarti seseorang mengalami aritmia. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kapasitas fungsional jantung yang belum terlatih karena kurang berolahraga.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan seberapa berat keluhan yang muncul dan dalam situasi seperti apa. Rasa sesak yang tidak sebanding dengan aktivitas, terutama jika terjadi berulang saat beban fisik ringan, dapat menjadi petunjuk adanya masalah yang perlu diperhatikan.
Penyebab napas terengah saat naik tangga
Menurut dr Budi, keluhan setelah menaiki tangga dapat berhubungan dengan kemampuan tubuh menghadapi aktivitas. Jika seseorang jarang berolahraga, jantung mungkin belum terlatih untuk merespons beban gerak dengan baik. Dalam keadaan seperti itu, napas terengah tidak serta-merta menandakan gangguan irama jantung.
Akan tetapi, sesak yang berlebihan juga bisa terkait dengan gangguan irama maupun kemampuan jantung memompa darah. Ketika fungsi pompa jantung berkurang, keluhan dapat muncul meski beban aktivitas yang dilakukan tidak terlalu tinggi. Karena penyebabnya bisa berbeda-beda, gejala tidak cukup dinilai hanya dari fakta bahwa seseorang ngos-ngosan setelah naik tangga.
Salah satu gangguan irama yang disebut dokter adalah bradikardia. Kondisi ini ditandai dengan denyut jantung kurang dari 60 kali per menit saat tubuh sedang beristirahat. Dalam konteks keluhan saat beraktivitas, dokter juga dapat mempertimbangkan kemungkinan bradiaritmia, yakni gangguan irama dengan denyut yang lambat.
Respons denyut jantung saat beraktivitas
Dokter menjelaskan, salah satu hal yang dapat diamati untuk menilai kemungkinan bradiaritmia adalah perubahan laju denyut jantung ketika seseorang beraktivitas. Saat menaiki tangga atau melakukan kegiatan lain, denyut jantung semestinya mendapat respons terhadap aktivitas tersebut. Jika lajunya tidak berubah atau “tidak bergeming”, ada kemungkinan terjadi gangguan irama.
Pengamatan itu bukan berarti seseorang dapat memastikan diagnosisnya sendiri hanya dengan menghitung denyut jantung. Penilaian tersebut merupakan bagian dari pemeriksaan yang dijelaskan dr Budi. Perlu dibedakan pula antara napas terengah setelah aktivitas dan sesak yang terasa berlebihan pada beban ringan, karena keduanya tidak otomatis menunjukkan penyebab yang sama.
Pesan utamanya, ngos-ngosan sesekali setelah menaiki tangga tidak langsung menjadi bukti adanya aritmia. Namun, jika sesak terasa berlebihan, muncul saat aktivitas ringan, dan terjadi berulang, keluhan itu tidak sebaiknya dianggap semata-mata akibat kurang bugar. Kemungkinan gangguan irama atau fungsi pompa jantung perlu menjadi pertimbangan.
Penanganan bradiaritmia bergantung pada kondisi pasien
Pada pasien dengan bradiaritmia atau bradikardia tertentu, salah satu pilihan penanganan adalah pemasangan alat pacu jantung permanen atau pacemaker. Perangkat ini tersedia dalam bentuk konvensional dan teknologi yang lebih baru, yakni leadless pacemaker yang tidak menggunakan kabel.
Pemilihan jenis alat tidak dilakukan dengan satu pendekatan yang sama untuk semua orang. Dokter mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien, sebab tidak semua pasien cocok menggunakan pacemaker konvensional. Pada pasien berusia sangat lanjut, misalnya, kondisi tubuh yang ringkih dan kulit yang tipis dapat membuat risiko infeksi lebih tinggi jika alat pacu jantung standar dipasang.
Pasien yang menjalani cuci darah rutin juga menjadi salah satu kelompok yang perlu dipertimbangkan secara khusus. Mereka membutuhkan akses pada pembuluh darah berukuran besar, sehingga keputusan mengenai alat pacu jantung perlu disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Karena itu, pilihan perangkat dan penanganannya ditentukan berdasarkan keadaan pasien, bukan hanya jenis keluhan yang dirasakan.
Pada akhirnya, napas terengah setelah naik tangga bisa saja berkaitan dengan kebugaran, tetapi keluhan berulang yang terasa berlebihan patut dicermati. Memperhatikan pola gejala dan respons tubuh saat beraktivitas dapat membantu memberi gambaran awal. Penilaian dokter tetap diperlukan untuk mencari tahu apakah keluhan berhubungan dengan irama, fungsi pompa jantung, atau kapasitas fisik.
