Hilirisasi mineral kritis Indonesia memasuki tahap pengolahan lanjutan dengan industri baterai kendaraan listrik atau EV sebagai salah satu prioritas. Arah ini menempatkan pembangunan smelter dan fasilitas pemurnian sebagai fondasi, lalu mendorong pengembangan produk bernilai tambah tinggi yang dapat terhubung dengan kebutuhan pasar internasional.
Hilirisasi mineral kritis masuk tahap kedua
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Heldy Satrya Putera mengatakan pengembangan hilirisasi nasional bergerak melalui tiga tahapan strategis. Tahap awal berfokus pada pembangunan fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian.
Prioritas saat ini, menurut Heldy, memasuki Tahap Dua. Cakupannya adalah perluasan industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System atau BESS, serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya.
“Pengembangan hilirisasi Indonesia saat ini bergerak melalui tiga tahapan strategis. Selama ini, kita telah membangun fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian. Saat ini, prioritas kita memasuki Tahap Dua, yaitu memperluas pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya,” ujar Heldy dalam keterangan resmi, Rabu (30/9/2026).
Secara umum, hilirisasi adalah proses meningkatkan nilai bahan mentah melalui pengolahan menjadi produk antara atau produk lanjutan. Dalam rantai industri baterai, pengolahan mineral dapat berlanjut sampai bahan yang digunakan untuk komponen baterai, sehingga tuntutan teknologi, mutu, dan pasar menjadi lebih beragam.
Investasi hilirisasi dan peta jalan hingga 2040
Pemerintah telah merancang peta jalan pengembangan industri hilir yang meliputi 28 komoditas strategis. Taksiran kebutuhan investasinya mencapai USD618,1 miliar hingga 2040. Mineral dan batu bara ditempatkan sebagai salah satu ruang peluang penanaman modal terbesar dalam dokumen tersebut.
Pada semester I-2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun. Nilai itu menyumbang 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional dan tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Penanaman modal asing atau PMA mendominasi realisasi itu sebesar Rp212,8 triliun, setara 70,9 persen. Sementara penanaman modal dalam negeri atau PMDN tercatat Rp87,3 triliun, atau 29,1 persen.
Poin Penting
- Prioritas hilirisasi mineral kritis telah bergerak ke industri baterai kendaraan listrik, BESS, dan manufaktur bernilai tambah tinggi.
- Peta jalan industri hilir mencakup 28 komoditas strategis dengan kebutuhan investasi USD618,1 miliar hingga 2040.
- Realisasi investasi hilirisasi pada semester I-2026 mencapai Rp300,1 triliun.
- PMA berkontribusi Rp212,8 triliun, sedangkan PMDN sebesar Rp87,3 triliun.
- BKPM menyoroti keekonomian HPAL dan daya saing pasokan asam sulfat dalam rantai pasok nikel serta bahan baku baterai.
Tantangan rantai pasok baterai EV
Besarnya investasi menggeser pembahasan hilirisasi dari pembangunan fasilitas fisik menuju kemampuan memproduksi barang yang berdaya saing dan terkoneksi dengan pasar internasional. Agenda yang disebut mencakup iklim pasar kompetitif, daya tarik permodalan jangka panjang, serta kemampuan produk olahan domestik memenuhi kebutuhan pembeli internasional.
Pada ekosistem mineral kritis, isu yang mengemuka meliputi asal-usul bahan baku, efisiensi biaya pengolahan, formulasi harga produk, kepastian penyerapan oleh pembeli atau offtaker, dan standar kualifikasi pasar luar negeri. Offtaker adalah pihak yang menyerap atau membeli produk sesuai pengaturan yang disepakati.
Lonjakan kapasitas High Pressure Acid Leach atau HPAL di Indonesia disebut menjadi bagian integral dari konstelasi global rantai pasok nikel dan bahan baku baterai. HPAL merupakan proses pengolahan yang menggunakan tekanan dan suhu tinggi dengan larutan asam untuk mengambil unsur dari bahan mineral.
Prekursor, katoda, dan standar perdagangan global
Mata rantai yang lebih hilir menghadirkan kebutuhan berbeda. Pembuatan komponen prekursor dan katoda baterai memerlukan bukan hanya pasokan bahan mentah, melainkan juga penguasaan teknologi, jaminan kualitas spesifikasi produk, ketersediaan pembeli terikat, serta kepastian kelayakan keekonomian proyek.
Prekursor dan katoda merupakan bagian dalam rantai pembuatan baterai. Spesifikasi produk menjadi relevan karena produk industri dibuat untuk memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan pembeli atau pasar tujuan.
Operasional industri mineral dan logam juga dipengaruhi pengetatan standar perdagangan global. Prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola atau ESG, ketertelusuran rantai pasok, mekanisme penyesuaian batas karbon atau CBAM, serta uji kelayakan hak asasi manusia atau HRDD disebut sebagai prasyarat yang menentukan akses pasar dan keputusan pembelian mitra dagang.
Pertanyaan Seputar Hilirisasi Mineral Kritis
Apa fokus tahap kedua hilirisasi mineral kritis?
Tahap kedua diprioritaskan untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik, BESS, dan manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya.
Berapa realisasi investasi hilirisasi pada semester I-2026?
Realisasi investasi hilirisasi tercatat Rp300,1 triliun, atau 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional.
Apa yang dimaksud HPAL?
HPAL adalah singkatan dari High Pressure Acid Leach, yakni proses pengolahan mineral dengan tekanan dan suhu tinggi menggunakan larutan asam.
Faktor apa yang menentukan daya saing produk hilir?
Faktornya mencakup efisiensi rantai nilai, spesifikasi produk yang dicari pasar, akses pembiayaan, pengelolaan ongkos produksi, dan pemenuhan regulasi keberlanjutan negara tujuan ekspor.
Perkembangan hilirisasi mineral kritis membuat perhatian industri tidak berhenti pada besarnya cadangan tambang. Kemampuan membangun rantai nilai yang efisien, memenuhi spesifikasi pasar, menjaga kelayakan proyek, dan mengikuti standar keberlanjutan menjadi bagian dari persaingan menuju industri baterai EV.
