IHSG ditutup melemah 0,83% ke level 6.071,14 pada perdagangan Rabu (30/9), meski sejumlah saham seperti UNTR, MORA, dan EMAS masih mencatat penguatan. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan tersebut berlangsung saat investor asing membukukan penjualan bersih di pasar reguler maupun seluruh pasar.
IHSG Melemah 0,83% di Tengah Tekanan Sektoral
Delapan dari 11 sektor di bursa berakhir melemah. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,76%, sedangkan sektor industri menjadi sektor dengan penguatan terbesar, yaitu 1,17%.
Dari sisi saham, UNTR menguat 7,55%, MORA naik 1,99%, dan EMAS bertambah 2,32%. Sebaliknya, GOTO menjadi saham dengan koreksi terbesar setelah turun 13,51%. TLKM melemah 3,38%, sementara BBCA turun 1,22%. Pergerakan saham GOTO juga menjadi salah satu sorotan dalam perdagangan tersebut.
Investor asing mencatatkan net sell Rp1,56 triliun di pasar reguler dan Rp1,61 triliun di seluruh pasar. Net sell adalah kondisi ketika nilai penjualan investor lebih besar daripada nilai pembeliannya dalam periode perdagangan tertentu.
Poin Penting Pergerakan IHSG dan Saham
- IHSG ditutup di level 6.071,14 setelah melemah 0,83% pada Rabu (30/9).
- UNTR naik 7,55%, MORA menguat 1,99%, dan EMAS bertambah 2,32%.
- GOTO terkoreksi 13,51%, sedangkan TLKM dan BBCA masing-masing turun 3,38% dan 1,22%.
- Investor asing membukukan penjualan bersih Rp1,56 triliun di pasar reguler serta Rp1,61 triliun di seluruh pasar.
- Sektor teknologi turun 2,76%, sementara sektor industri naik 1,17%.
Short Selling Mulai Berlaku dan Saham yang Disorot
Pelaku pasar domestik mencermati penerapan aktivitas short selling yang mulai berlaku pada 1 Oktober. ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF termasuk saham yang menjadi perhatian dalam penerapan tersebut. Pada saat yang sama, ETF EIDO terkoreksi 0,85% dan MSCI Indonesia turun 1,12%.
Dalam pengertian umum, short selling merupakan transaksi jual atas efek yang dipinjam, dengan kewajiban mengembalikan efek tersebut. Aktivitas ini memiliki mekanisme dan ketentuan tersendiri. Karena itu, investor perlu membedakan perdagangan reguler dengan transaksi yang menggunakan fasilitas tersebut, serta memahami risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Pergerakan pasar Amerika Serikat juga berlangsung variatif. Dow Jones turun 0,86% ke level 50.906 dan S&P 500 melemah 0,25% ke 7.651. Nasdaq justru menguat 0,24% ke 26.861.
MITI Kembangkan Tiga Konsesi Pasir Silika
PT Mitra Investindo Tbk (MITI) memperluas rencana pengembangan bisnis pasir silika melalui kerja sama dengan PT CNEC Engineering Indonesia (CNEC INA). Nota kesepahaman kedua pihak ditandatangani pada 29 September 2026.
CNEC INA merupakan anak usaha China Nuclear Engineering & Construction Corporation, perusahaan milik negara China. Kerja sama itu mencakup pengembangan tiga konsesi tambang pasir silika milik anak usaha MITI, mulai dari eksplorasi, studi kelayakan, hingga rekayasa teknis. Terdapat pula keterlibatan mitra teknis dan rekayasa dari China serta potensi dukungan pendanaan.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk mengaktifkan konsesi pasir silika MITI yang belum beroperasi. Agenda itu berkaitan dengan hilirisasi pasir silika nasional. Cadangan pasir silika disebut sekitar 7,80 miliar ton, sedangkan peta jalan hilirisasi silika mengarahkan pengembangan industri hingga rantai panel surya, termasuk wafer silikon solar-grade sebagai bahan dasar sel surya.
DEWA dan AALI dalam Perhatian Pasar
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membuka peluang memperoleh kontrak baru di luar proyek yang berjalan. Peluang tersebut didukung kapasitas operasional, armada, kemampuan teknis, dan akses pendanaan perseroan. Keputusan Menteri ESDM Nomor 365.K/2026 yang membatasi penggunaan anak usaha dan afiliasi pemegang Izin Usaha Jasa Pertambangan dinilai tidak berdampak material terhadap kegiatan DEWA.
DEWA saat ini menjadi kontraktor independen Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia. Keterlibatan perseroan di kedua perusahaan telah dilaporkan dan memperoleh persetujuan Kementerian ESDM melalui RKAB tahunan. Keduanya juga terlibat dalam proyek gasifikasi batu bara melalui Bumi Etam Chemical serta memiliki penugasan DMO dengan pasokan 22,30 juta ton.
Sementara itu, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp233 per saham, dengan total sekitar Rp449,02 miliar. Laba bersih AALI pada semester I 2026 mencapai Rp1,10 triliun, naik 56,51% secara tahunan dari Rp702,12 miliar pada semester I 2025. Pada harga penutupan Rp8.000 per saham pada 30 September 2026, dividen tersebut setara dividend yield sekitar 2,91%.
Pertanyaan Seputar IHSG
Apa itu IHSG?
IHSG adalah Indeks Harga Saham Gabungan, yaitu indeks yang menggambarkan pergerakan harga saham di bursa secara gabungan. Perubahan indeks dapat mencerminkan naik atau turunnya nilai saham yang menjadi komponennya.
Saham apa yang menguat saat IHSG melemah?
UNTR menguat 7,55%, MORA naik 1,99%, dan EMAS bertambah 2,32% pada perdagangan Rabu (30/9).
Apa arti dividend yield?
Dividend yield adalah perbandingan nilai dividen per saham terhadap harga saham. Pada AALI, dividen interim Rp233 per saham setara sekitar 2,91% berdasarkan harga penutupan Rp8.000 per saham pada 30 September 2026.
Saham apa yang diperhatikan dalam penerapan short selling?
ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF termasuk daftar saham yang menjadi perhatian saat aktivitas short selling mulai berlaku pada 1 Oktober. Perkembangan IHSG, kebijakan perdagangan, serta aksi korporasi emiten seperti MITI, DEWA, dan AALI menjadi informasi yang dicermati pelaku pasar.
